Kamis, 23 Oktober 2014

Kurikulum 2013 Dukung Pembelajaran PAUD

SAMARINDA | Senin, 15 Juli 2013
SAMARINDA - Salah satu latar belakang berubahnya kurikulum sekolah dasar (SD) di 2013, karena penyesuaian dengan kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pembelajaran yang dilaksanakan di kelas I SD merupakan hasil pengembangan pembelajaran di PAUD.
Ketua Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) Kaltim, Anni Widyah menuturkan, kurikulum PAUD tidak ada perubahan. Justru kurikulum baru yang dilaksanakan di SD adalah adopsi pembelajaran yang dilaksanakan pada kurikulum PAUD. Contohnya, buku tentang Keluargaku di SD, telah ada di kurikulum PAUD. Dengan begitu, apa yang didapatkan murid saat di TK, lebih dikembangkan di SD nanti. “Berubahnya kurikulum SD, malah bisa membantu PAUD, karena temanya sama. Malah dari dulu itu yang kami harapkan agar sinkron,” terangnya.
Dengan adanya kurikulum 2013, sebut dia, tahapan pengenalan anak terhadap berbagai hal dapat lebih dalam lagi. Semisal, saat TK anak hanya mengetahui tentang ibu dan bapak, maka ketika SD sudah diajarkan lebih luas lagi. Seperti diketahui, pada kurikulum PAUD, anak tidak dipaksakan untuk membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Anak-anak dapat belajar calistung lewat alat bermainan. “Jadi bukan langsung diajarkan 1, 2, 3, dan seterusnya, tapi lewat permainan,” terangnya.
Disebutkan, salah satu contoh bermain dengan alat permainan berbasis sentra. Di sini, secara tidak langsung, anak belajar berhitung. Kemudian ada metode area, anak-anak belajar tentang berbagai hal di area permainan. “Kalau di TK sih, lebih banyak pengembangan diri dan mengenal pertumbuhan anak. Yang lebih berperan, terutama adalah gurunya,” jelasnya.
Selama ini, untuk mendukung pembelajaran PAUD, IGTKI melakukan kegiatan peningkatan kompetensi guru PAUD, terutama pada diklat tingkat dasar. “Kami fokusnya untuk guru-guru PAUD yang jauh dari jangkauan, misal daerah terpencil atau pedalaman,” sebutnya. Pelatihan guru, menurutnya sangat perlu, mengingat pendidikan guru PAUD tidak semua berpendidikan sarjana. “Terutama guru yang masih berpendidikan SMA, sangat perlu diberi pelatihan, karena yang diajar ini ‘kan anak yang tidak tahu apa-apa. Jika salah, akan berakibat fatal,” jelasnya.
Makanya, IGTKI selalu berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kaltim tentang hal ini. Baik program pelatihan maupun untuk peningkatan pendidikan guru. “Alhamdulillah sekarang sudah banyak yang dikuliahkan. Mudah-mudahan dapat terus berjalan, sehingga ke depan guru PAUD tidak ada lagi yang tidak sarjana,” tutup perempuan yang juga anggota Biro Pemberdayaan Perempuan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kaltim. (*/gus/ibr/k8)