Sabtu, 25 Oktober 2014

Prospek Keuskupan Agung Samarinda

KALTIM | Kamis, 25 Juli 2013
TULISAN ini soroti beberapa aspek prospek Keuskupan Samarinda (KS) dan Keuskupan  Agung Samarinda (KAS) pascawafat Uskup Agung Samarinda, Mgr Florentinus Sului MSF. Berbicara prospek berarti berpikir tentang masa depan KS dan KAS, yang baik atau buruk, positif atau negatif, lemah atau kuat, campuran dari kategori-kategori moral tersebut.
Pandangan saya adalah pandangan seorang “awam” Katolik di KS dan KAS. Tidak dimaksudkan untuk memengaruhi kebijaksanaan kaum hirarkis (magisterium) Gereja Katolik Kaltim dan universal. Secara teoritis-kanonis mungkin bisa dikatakan saya masih “berada” dalam hirarki gerejani, namun secara praksis saya “awam” Katolik sekitar lebih dari satu dekade terakhir ini.
Prospek KS dan KAS dalam pandangan saya adalah minimal harus bertahan seperti telah dicapai lebih dari satu abad hingga hari ini di Kaltim (1907-2013). Mempertahankan prestasi yang sudah dicapai, tentu tidaklah sulit, terutama di bidang pastoral, pendidikan dan kesehatan. Yang mau kita diskusikan adalah prospek KS dan KAS yang lebih dari pencapaian tersebut untuk satu abad ke depan. Seingat saya, Mgr Sului, MSF pernah berbicara masa depan KAS semacam ini beberapa tahun lalu. Prospek KS dan KAS sejauh itu,  maka Umat Katolik KS dan KAS perlu memperhitungkan beberapa pertimbangan kebijaksanaan pastoral yang  idealistis-pragmatis sebagai berikut.
Pertama, suksesi kepemimpinan KS dan KAS harus memperhitungkan sejarah dari KS hingga KAS. Sejarah KS dan KAS adalah identik dengan sejarah dari para Uskup, Imam,  Bruder, Diakon, Frater dan Seminari dari Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) di Kaltim. Kebijaksanaan pastoral terkait suksesi kepemimpinan KS dan KAS ke depan, kiranya sangat perlu memerhatikan sejarah tersebut secara bijak. Suatu deviasi historis akan berisiko tinggi secara sosio-pastoral-kultural. Jika suksesi ini menempuh proses kontinuitas historis tersebut, maka KS dan KAS akan berjalan lebih cepat ke masa depan seiring dengan perubahan di Kalimantan yang dinamis pada era politik desentralisasi otonomi daerah dewasa ini dan ke masa depan.
Kedua, bersama pemimpin  KAS yang baru, KAS perlu berjalan seiring dengan politik otonomi daerah. Artinya KAS harus menguatkan kerja sama pastoral dengan pemerintah daerah mulai dari tingkat kota/kabupaten hingga ke bawah. Tentu yang dengan tingkat provinsi tidak berarti diabaikan, tetapi penguatan politik kerja sama harus jauh lebih efektif dan efisien di tingkat kota dan kabupaten. Itu berarti kerja sama antara Kevikepan dan Paroki dengan pemerintah daerah (kota/kabupaten) harus lebih intensif dibandingkan dengan masa lalu. Gereja Katolik harus lebih akulturatif dan inkultutaritif sejalan dengan politik Otda negara dewasa ini. Memang gereja Katolik sejak semula melaksanakan “politik otonomi daerah” ini dari perspektif misoner gerejani ini sendiri. Tapi perlu ada dialog secara kontekstual antara “politik otonomi negara” dan “politik otonomi pastoral gerejani” (Katolik) secara lebih intensif ke depan. Uang negara (baca uang rakyat) lebih banyak di daerah daripada di pemerintah pusat pada satu dekade terakhir ini. Beberapa kabupaten dan satu provinsi baru di Kaltim telah terbentuk, yang mau tidak mau memerlukan sumbangan pemikiran gerejani pula, miminal pemikiran yang kritis-profetis. Prinsip-prinsip pendampingan Ajaran Sosial Gereja Katolik (ASGK) sangat dibutuhkan kaum awam Katolik di tengah proses pembangunan daerah dewasa ini.   
Ketiga, proses persiapan kepemimpinan dan keahlian para Imam Diosesan perlu dipersiapakan secara lebih serius lagi ke depan. Para imam MSF dan SVD di KS dan KAS sesungguhnya hanyalah mempersiapkan jalan yang mumpuni bagi para Imam Diosesan. Namun menurut hemat saya untuk 10 – 20 tahun ke depan, KAS masih perlu dipandu kepemimpinan MSF. Gereja Katolik KAS harus super bijak dalam proses transisi kaderisasi kepemimpinan pastoral semacam ini.
Keempat, saya tidak pernah meragukan kemampun keilmuwan para imam di bidang ilmu filsafat dan ilmu teologi gerejani. Gereja Katolik memiliki banyak tenaga profesor dan doktor di bidang kedua ilmu tersebut. Namun ke depan, alangkah sempurnanya juga, jika gereja Katolik KAS diperkuat para tenaga ahli keilmuwan di bidang ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu humaniora yang relevan, seperti, antropologi, sosiologi, psikologi, politik, ekonomi, hukum, sejarah, dll. Bukankah dokumen Konsili Vatikan II sesungguhnya mengisyaratkan kebutuhan akan ilmu-ilmu  profan tersebut bagi kemajuan Gereja Katolik guna terus berdialog dalam domein nilai-nilai kemanusiaan dan kebudayaan dengan dunia pascamodern masa kini dan ke masa depan?
Ringkasnya, Gereja Katolik KAS ke depan harus hadir dalam komunitas kebudayaan lokal di Kalimatan pada umumnya dan di Kaltim pada khususnya secara lebih efektif dibandingkan dengan satu abad atau satu dekade silam. Gereja Katolik KAS perlu jalankan fungsi kritis-profetis yang dialogis-partisipatorik dengan semua pihak yang berkehendak baik bagi kemajuan komunitas kemanusiaan yang berbasiskan peradaban cinta kasih yang universal. Sekali lagi, inilah pandangan saya tentang prospek masa KAS pasca Mgr Sului MSF. Jadi prospek pastoral kebudayaan KAS akan sangat cerah, jika keempat catatan tersebut di atas diperhatikan segenap Umat Katolik di Kaltim.
Singkat kata, Gereja Katolik adalah gereja untuk semua orang. Namun dalam konteks Gereja Katolik di Kalimantan pada umumnya dan di Kaltim pada khususnya, tampaknya pastoral kebudayaan untuk komunitas Dayak masih merupakan sebuah tugas misioner gerejani yang sangat berat bagi siapa pun yang memimpin Keuskupan Agung Samarinda ke depan. Tampaknya “teologi kebudayaan baru” diperlukan bagi komunitas pastoral Dayak di Kaltim dan Kalimantan. Cultural values manakah yang mampu mempersatukan semua komunitas Dayak di Kaltim dan Kalimantan?  Model pendidikan iman dan imam inkulturatif macam apa yang tepat untuk orang Dayak di abad Ke-XXI ini? Saya belum bisa jawab persoalan ini hingga sekarang? Dengan pendekatan yuridis-formal gerejani, saya kira akan sia-sia menjawab persoalan-persoalan tersebut. Yang mungkin bisa adalah kebijaksanaan pastoral berbasis kebudayaan/kearifan lokal (local genius, local prudencia) ...?  (waz)