Jumat, 29 Agustus 2014

Usia Menikah Ada Aturannya

CELOTEH | Jumat, 20 September 2013 | dibaca: 430 kali
RENTANG usia seseorang disebut anak-anak dari dilahirkan hingga berumur 18 tahun. Lalu bagaimana negara mengatur usia pernikahan? Dosen Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, La Sina membenarkan, seseorang disebut anak dalam undang-undang (UU) sampai umur 18 tahun. Tentang pernikahan, dia menerangkan dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pasal 7 menyebutkan perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 tahun dan perempuan mencapai usia 16 tahun. “Maka, ketika menikah di bawah usia tersebut pasangan memerlukan ijin dari wali,” ucapnya.

Beda lagi, sambungnya, jika ‘kecelakaan’ maka mau tidak mau orang tua harus menikahkan anaknya. Mau tak mau ini tetap sah meskipun menabrak UU yang ada. Begitu pula dengan orangtua yang malah mendesak anaknya menikah. “Itu sah saja jika dirujuk dari undang-undang perlindungan anak,” paparnya.

Mirisnya, pernikahan dini bukan menjadi hal yang langka. Tidak sedikit pasangan yang melangsungkan pernikahan di bawah usia dua puluh tahun. Di Samarinda misalnya, dalam kurun waktu Januari hingga Juli 2013, ada 83 perempuan yang tercatat di kantor urusan agama (KUA) melangsungkan pernikahan. Usianya? Masih 13-17 tahun. Berbanding jauh dengan Laki-laki yang hanya menembus angka 12 orang pada usia 13-16 tahun.

Padahal, negara jelas mengatur melalui UU yang salah satu pasalnya berbunyi ‘Perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 tahun’.

Kepala Seksi Bimas Islam Kantor Kementerian Agama Samarinda, Elhamsyah menjelaskan, pernikahan usia muda tidak dilarang. Tentunya dengan memperhatikan pertimbangan yang ada. Elham menerangkan, jika pernikahan dilangsungkan di luar aturan permohonan pernikahan harus diajukan ke Pengadilan Agama. “Jika dikabulkan maka dinikahkan,” ucapnya. (*/fla/her/rsk)