Sabtu, 1 November 2014

Jual-Beli Perawan Terungkap

Dibayar Rp 3,5 Juta, Uangnya untuk Kawat Gigi
UTAMA | Selasa, 01 Oktober 2013 | dibaca: 5111 kali
BALIKPAPAN – Sejumlah kasus penyimpangan remaja di Kaltim, harus ditanggapi serius. Yang terbaru, di Balikpapan terungkap ada seorang siswi sekolah menengah atas yang menjual keperawanannya untuk ongkos memasang kawat gigi.

Tawaran gadis berinisial T yang baru berusia 16 tahun ini, akhirnya diambil pria hidung belang berinisial RB dengan nilai Rp 10 juta. Namun usai menikmati, RB hanya memberi Rp 3,5 juta lalu menghilang. Kasus ini terungkap saat orangtua T mengadukan nasib anaknya ke Kantor Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Balikpapan, Senin (23/9) lalu.

Kepala Unit Kantor PPA Polres Balikpapan, Iptu Munjaini, saat merilis kasus ini kemarin di depan awak media menyebut, kini tersangka RB masih dalam pengejaran. Meski begitu, bukan RB saja yang menjadi tersangka. Beberapa kawan T lebih dulu dinaikkan statusnya sebagai tersangka dan sudah diamankan. Mereka diyakini polisi menjadi otak di balik transaksi seks tersebut.

Dikatakan Munjaini, awalnya orangtua T menaruh curiga, ketika menemukan uang jutaan rupiah di dalam tas sekolah. Setelah diinterogasi pihak keluarga, alangkah kagetnya ternyata ini upah setelah melakukan hubungan terlarang bersama seorang lelaki berumur tiga puluhan tahun.

Dari situ mulai terbongkar, pihak-pihak yang terlibat, baik di belakang layar maupun bertindak selaku perantara.

Dari pengakuan T, temannya yang ikut terlibat dalam jual-beli keperawanan itu adalah SL (17), NV (15),  ZN (16), ketiganya masih berstatus pelajar. Adapula HD (16), remaja putus sekolah dan kini hamil 4 bulan. “Semuanya perempuan dan masih di bawah 18 tahun” tutur Munjaini.

Selama sepekan keempat tersangka ini diperiksa intensif  PPA. Bahkan ZN dijemput di sekolahnya ketika sedang proses belajar mengajar. Dari sini cerita terus meluas. “Sudah diamankan keempat tersangka,” ungkap dia.

Gemerlap gaya hidup membuat T menempuh cara praktis yang tak terpuji. ZN ketika diwawancara mengatakan, semua kejadian berawal dari keinginan sahabatnya, T, hendak memakai behel atau kawat gigi. T menyampaikan keinginannya langsung kepada dirinya. Kawat gigi itupun dianggap mahal.

Masalah ini akhirnya didiskusikan kepada HD, yang lewat dia sepakat mencari uang dengan cara menjual keperawanan T seharga Rp 15 juta.

Ternyata menjual mahkota T tidak mudah. HD yang tak juga menemukan pembeli, ikut menawarkan kepada NV, yang dinilai bisa menjualkan. Oleh NV, tarifnya ditawar turun Rp 10 juta.

Kesepakatan akhirnya tercapai di antara ketiga pelajar tersebut. NV pun lantas mencarikan om gendut lagi-lagi melalui perantara lain yakni SL. Sampai akhirnya RB berniat “membeli”.

Singkat cerita, pada 21 September, keempat tersangka dan T lalu pergi ke tempat karaoke di kawasan Damai.

Dua jam berselang, RB keluar karaoke yang ternyata mencari hotel sebagai tempat eksekusi. Pukul 16.00 Wita, T diantar ke hotel tersebut. Bertemu RB di salah satu kamar, T lantas ditinggal kawan-kawannya.

Puas melakukan hubungan suami istri, T ternyata tidak diberi Rp 10 juta sesuai kesepakatan awal. Namun hanya Rp 3,5 juta, lalu disuruh pulang.

Dua hari berselang tepatnya 23 September, uang pemberian RB oleh T dibagikan kepada  ZN dan sisanya disimpan di dalam tas. Sampai akhirnya ditemukan oleh orangtuanya.

Sementara itu SL menuturkan, RB mengaku sebagai pengusaha asal Balikpapan. Namun dia tak tahu apa jenis usahanya. “Setahu saya cuma pengusaha. Usahanya saya enggak tahu persis. Usia sekitar 30,” papar SL.

Saat ini RB terus diburu dan masuk daftar pencarian orang (DPO). Polisi siap menjerat seluruh tersangka dengan Undang-undang Perlindungan Anak RI No 23 tahun 2002 pasal 88 tentang eksploitasi ekonomi dan seksual terhadap anak di bawah umur. Ancaman maksimal bisa 10 tahun penjara.

FENOMENA GUNUNG ES

Kasus jual diri demi gaya hidup ini, bukan hal baru bagi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kaltim. “Bukan satu atau dua anak saja, ada puluhan. Cuma banyak yang enggak ketahuan saja,” ucap Eka Komariah Kuncoro, ketua P2TP2A Kaltim.

Menurutnya, kasus yang dialami T (16), salah seorang pelajar SMK di Balikpapan ini, seperti fenomena gunung es. Bukan hanya kawat gigi, alasan yang muncul bisa karena ingin punya gadget canggih produksi terkini atau baju, tas, hingga sepatu yang bermerek.

Eka menuturkan, saat ini lembaganya bersama kepolisian sedang bekerja sama untuk menemukan pola-pola jual diri anak di bawah umur seperti ini. Namun Eka tidak bisa berbagi informasi karena bisa mengubah perilaku mereka yang punya ciri tertentu.

“Kadang mereka di rumah tetap jadi anak manis seperti remaja biasa,” terang Eka. Selain itu, lanjutnya, biasanya teman yang tega mengajak temannya menjual diri karena sudah duluan menjual diri. Ketika sudah tidak begitu laku, lantas beralih menjadi perekrut anak-anak baru. “Atau bisa juga yang cari anak baru itu anak yang tidak jelas dia perempuan atau laki (biseksual),” kata Eka.

Eka menuturkan, fenomena kasus jual diri demi benda ini menunjukkan budaya ketimuran yang makin merosot. Dia pun mempertanyakan peran orangtua. Bagaimanapun orangtua punya tanggung jawab untuk asupan pendidikan moral, agama, dan adat istiadat. Paling mengkhawatirkan, terang Eka, ketika si anak tertular HIV/AIDS.

Jika dibandingkan dengan harga kawat gigi, seharusnya harga diri jauh lebih berharga. Seandainya masih ‘waras’ maka remaja putri akan berpikir berkali-kali lipat untuk menjual diri hanya demi kawat gigi.

“Kondisi jiwa anak itu tidak matang. Pasti ada sebabnya, perlu ada diagnosa untuk menyebut anak itu punya gangguan atau tidak,” urai dr Jaya Mualimin Sp Kj. Psikiater Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Atma Husada Mahakam ini mengatakan, memang ada satu gangguan jiwa ketika perilaku seseorang terlampau nekat untuk sesuatu yang tidak sebanding kebahagiaannya. 

Tidak hanya si anak, Jaya justru bertanya tentang riwayat keluarga anak. Seandainya anak tersebut berasal dari keluarga tidak mampu berarti ada tuntutan luar biasa yang menekan dia untuk mengikuti arus gaya hidup.

Sebaliknya, jika anak-anak yang menjual diri itu dari keluarga mampu tentu ada kelainan-kelainan psikologis. “Kembali pada pola asuh orangtuanya. Dari situ bisa diurai mengapa anak tersebut tidak matang perkembangan psikologisnya,” jelasnya. (*/rsh/ede/her/che/k1)