Jumat, 31 Oktober 2014

Antrean Tumpah ke Jalan, Satu Jam Habiskan 400 Kotak

Roti Durian Panglima, Penantang Baru Kuliner Samarinda
PRO BISNIS | Selasa, 08 Oktober 2013 | dibaca: 1218 kali
Kota Tepian kembali kedatangan produk kuliner baru. Setiap harinya, puluhan orang rela mengantre panjang hingga ke pinggir jalan, hanya untuk membeli dua kotak roti berselai durian, yang baru dua pekan terakhir dipasarkan.

NUR RAHMAN, Samarinda
 
SEJAK 16.00 Wita, para pencinta durian sudah berjejer rapi di depan East Kalimantan Center (EKC), salah satu pusat suvenir di Jalan Pangeran Antasari. Lokasi itu, sementara ini menjadi satu-satunya lapak bagi Ferry Gunawan untuk menjajakan penganan yang baru mulai dikenalkan Ramadan lalu.

Permintaan yang tak pernah berhenti membuat bisnis yang didirikan dengan dua rekannya, Muliadi dan Budiman itu belum sempat menyiapkan lokasi permanen sebagai tempat memasarkan produk.

"Sementara ini, kami bekerja sama dengan pemilik EKC dengan meminjam halaman parkir mereka. Ditambah pos kasir sebagai tempat pembayaran pembeli roti durian ini," ujar Ferry.

Dirinya sengaja memisahkan tempat membayar dengan pengambilan roti agar tidak kelabakan melayani pembeli. Begitu pun dengan sistem "berbaris panjang" yang harus dituruti para pembeli.

"Jadi, mereka bayar dulu sesuai jenis roti yang mereka pesan. Dengan menunjukkan struk pembayaran, baru mereka bisa mendapatkan rotinya di sini (di mobil), jelasnya.

Roti Durian Panglima milik Ferry memang terbagi dalam dua jenis, yakni kategori original dan roti durian+keju. "Harganya pun berbeda. Yang original Rp 20 ribu per kotak dan Rp 25 ribu yang ditaburi keju," sambung pria berkacamata itu.

Karena terbatas, setiap pembeli lanjut dia, hanya bisa mendapatkan dua kotak roti durian. "Jenisnya terserah. Kami cuma ingin lebih banyak orang bisa merasakan produk kami," jelasnya.

Pola berjualan semacam ini, baru dilakoninya sekitar dua pekan terakhir. Sebelumnya, dia menyebut hanya melayani penjualan dengan pola pesan antar untuk konsumen perorangan maupun pesanan untuk acara.

"Juli lalu, kami hanya melayani pesan antar. Karena kelabakan memenuhi permintaan, kami memutuskan menjualnya secara terbuka seperti ini. Sudah begini pun, kami masih kelabakan melayani permintaan," terangnya.

Meski begitu, Ferry dan kawan-kawannya tetap melayani pola pesan antar dengan jumlah tertentu. "Minimal dua kotak dan gratis ongkos kirim untuk wilayah Samarinda. Untuk acara yang memesan lebih banyak, transaksi harus dilakukan secara khusus," ucapnya.

Saking padatnya permintaan, dia menyebut konsumen baru bisa mendapatkan roti durian pesanan mereka sekitar 20 hari sejak memesan. "Memang begitu. Kalau mau langsung dapat, memang harus datang langsung untuk ikut antre ke sini," imbuh dia.

Tingginya animo masyarakat terhadap kuliner itu, tidak lahir dari promosi seperti produk kuliner kebanyakan. "Hanya dari cerita mulut ke mulut para pembeli sebelumnya. Mungkin karena belum banyak yang menjual roti durian di sini, makanya kami diserbu begini," bebernya.

Menjual sekitar 400 kotak roti setiap harinya untuk sistem antre tersebut, Ferry menyebut hanya membutuhkan satu jam untuk menghabiskannya. "Kami biasanya mulai Pukul 16.00 Wita dan selesai satu jam setelah itu. Kalau telat datang, antrean sudah menunggu," ungkapnya.

Selalu tumpahnya antrean hingga ke jalan raya, membuat Ferry dan rekan-rekannya kini mulai memikirkan mencari stan sendiri. "Pembeli juga selalu menanyakan tempat lain kami berjualan. Mungkin sekitar bulan depan sudah ada lokasi tetap," katanya. Meski begitu, dia menyebut tidak akan langsung meninggalkan lokasi yang mereka pakai saat ini. "Orang-orang baru tahunya ya di sini," lanjut dia.

Meski baru tiga bulan menjajakan roti durian, Ferry mengaku telah dua tahun terakhir berbisnis roti. "Kami pilih durian karena masih termasuk langka di Samarinda," tuturnya.

Sebelumnya, berbagai jenis roti lainnya telah diproduksi Ferry dan rekan-rekannya di sebuah home industry mereka di Perumahan Citra Griya Sejahtera, Jalan Adam Malik, Samarinda. "Jadi, Roti Durian Panglima ini memang produk asli Kota Tepian," tutupnya. (wan/k1)