Sabtu, 20 Desember 2014

Pesut Masih Ada di Kukar (1)

Susuri Perairan Muara Kaman, Malah Ketemu Berang-Berang
KALTIM | Jumat, 01 November 2013 | dibaca: 303 kali
BANYAK warga yang kemudian menganggap pesut sudah punah. Budi, salah satu warga Loa Kulu, kecamatan di hilir Kota Tenggarong, yang bermukim di tepi Sungai Mahakam mengaku tak pernah lagi melihat pesut muncul sejak di tahun 2000.
"Kalau sebelum tahun 2000, pesut masih kerap dijumpai di belakang rumah saya ini, munculnya  pagi hari, tapi setelah itu saya tak pernah melihat lagi," ujarnya. Namun, saat ini Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris) itu masih bisa dijumpai di perairan antara kecamatan Kota Bangun dan Muara Kaman Kutai Kartanegara.
Menurut hasil monitoring Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) pada 2012, Pesut Mahakam diperkirakan tinggal berjumlah 92 ekor.
"Saat ini pesut di seluruh Mahakam diperkirakan hanya ada di perairan Kukar, yakni antara Kota Bangun dan Muara Kaman," ujar peneliti asal Belanda Danielle Kreb dari Yayasan Konservasi RASI, saat ditemui Mei lalu.
Berbekal informasi tersebut, media ini bersama tim liputan salah satu televisi swasta nasional dari Jakarta mencoba peruntungan melihat langsung hewan eksotis Mahakam tersebut, didampingi anggota YK RASI Innal Rahman. Kami menyusuri perairan antara Kota Bangun hingga Muara Kaman, Selasa (29/10) lalu.
Tim jurnalis mengawali perjalanan dari Tenggarong sekitar pukul 07.30 Wita menyusuri jalan darat dan tiba di Kota Bangun sekitar pukul 10.00 Wita.
Mengikuti saran Innal, tim terlebih dahulu mengisi perut di warung setempat, agak tidak kelaparan saat 'hunting' pesut yang akan diakhiri saat hari gelap. Setelah kenyang, tim langsung turun ke Mahakam untuk memulai pencarian pesut dengan transportasi lokal yang disebut ces atau perahu bermotor.
Hunting diawali di perairan Desa Sangkuliman hingga muara Danau Semayang. Namun, karena air terlalu surut, menurut warga setempat yang sempat ditanyai, pesut jarang terlihat. Mendengar informasi tersebut, sekitar pukul 11.30 Wita, tim pun berbalik ke arah hilir menuju perairan Muara Kaman.
Terik matahari terasa menyengat, tapi tak menyurutkan semangat dan niat melihat langsung Pesut Mahakam. Untungnya, cipratan air ke kepala akibat empasan haluan perahu dengan air yang sedikit berombak akibat angin, mampu menyejukkan kulit wajah.
Sekitar pukul 13.00 Wita, tim tiba di muara Sungai Kedang Rantau yang merupakan anak sungai Mahakam di Muara Kaman. Kami singgah di rakit pos penjagaan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Kaltim yang berada tepat di bibir muara tersebut.
"Kita coba tunggu di sini dulu, karena biasanya pesut sering terlihat di muara ini saat tengah hari," ujar Innal.
Namun, ada suasana berbeda di muara Kedang Rantau tersebut. Biasanya banyak gerombolan burung dara laut yang berburu ikan kecil, tetapi siang itu tak tampak.
Setelah setengah jam hewan yang dicari tak muncul, tim memutuskan masuk ke Kedang Rantau. Darwis, sang pengemudi ces pelan-pelan menarik gas, hingga perahu hanya berjalan pelan, menyusuri anak sungai dengan lebar kira-kira 30-50 meter itu.
Hewan pertama yang dijumpai adalah bangau yang sedang mencari ikan, kemudian burung Pekaka Emas yang sedang bertengger menunggu ikan kecil. Burung pemangsa ikan lainnya yaitu Pecuk Ular, juga sempat direkam gambarnya saat berada di air untuk berburu ikan.
Sesuai namanya, leher Pecuk Ular sepanjang kira-kira 40 cm yang muncul ke permukaan air sangat mirip hewan lata.
Biasanya, berbagai jenis burung lainnya sangat mudah dijumpai di Kedang Rantau, namun saat itu hanya segelintir yang terlihat. Kejenuhan akibat sudah lebih satu jam menyusuri anak sungai belum menemukan pesut, sedikit terobati dengan sepasang berang-berang yang mencari makan di tepi sungai.
Didekati dengan perahu, berang-berang itu tidak langsung kabur, melainkan hanya mendesis menunjukkan gigi besar mereka. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk mengambil gambar lebih
lama, sembari menunggu pesut-pesut menampakkan “batang hidung” mereka. (wan/k9/bersambung)