Selasa, 21 Oktober 2014

Sisi Udara BSB Mulai Januari 2014

Bangun Home Base Lion Air, Investor Bebaskan Lahan Sendiri
METROPOLIS | Sabtu, 14 Desember 2013
SAMARINDA - Meski kepastian PT Persada Investment (PI) membangun sisi udara Bandara Samarinda Baru (BSB) terkesan tarik ulur, Gubernur Kaltim, Awang Faroek Ishak, menegaskan kerja sama dengan investor masih berlangsung. Pemprov telah mengonfirmasi ulang baru-baru ini. Diperkirakan pembangunan sisi udara dimulai Januari 2014.

Menurutnya, menunggu PT PI mulai bekerja memang butuh waktu. Pasalnya, perusahaan tersebut merupakan investor profesional. Penunjukan rekanan tak bisa sembarangan atau asal tunjuk. “Investor ingin yang menangani profesional dan biasa membangun bandara,” ucap Awang.

Dia maklum investor tak bergerak cepat membangun sisi udara BSB. Pasalnya, karena buru-buru pula BSB sempat mengalami penundaan hingga dua tahun. “Coba bayangkan kalau yang dulu mengerjakan sama seperti sekarang, ‘kan tak terjadi begini,” keluh dia.

Akibat sering tidak jelas karena melibatkan investor, banyak pihak meminta BSB diselesaikan dengan dana APBD Kaltim. Namun, Awang ngotot pakai investor. Soal itu, dia punya alasan tersendiri. Melibatkan swasta dapat memberikan keuntungan lain. Dia mencontohkan PT PI sebagai investor BSB yang ternyata punya hubungan erat dengan pemilik Lion Air.

Perusahaan maskapai penerbangan tersebut kini tengah mencari lokasi untuk mendirikan maintenance center. Samarinda jadi sasaran proyek tersebut seiring terbangunnya BSB di bagian utara Kota Samainda.

“Jika BSB bisa dikembangkan hingga 2.500 meter dan fasilitas maintenance Lion Air dapat dibangun, home base Lion bisa di Samarinda,” ucap dia.

Jika wacana-wacana itu terwujud, Awang meyakini Samarinda bakal berkembang pesat. Kondisi saat ini saja, jadwal penerbangan Lion Air di Balikpapan saja sampai 28 kali sehari, meski masih bermarkas di luar Kaltim.

“Bayangkan, Balikpapan berkembang, Samarinda berkembang,” sebutnya.

Sementara untuk urusan pembebasan lahan di luar proyek BSB, seperti rencana membangun maintenance center Lion Air, Awang meminta investor melakukan sendiri. Namun demikian, gubernur memberi sinyal jika APBD dapat ambil peran untuk urusan itu.

“Bisa kerja sama dengan perusda. Jadi kita bantu lewat perusda, bukan Pemprov,” imbuhnya.

Untuk diketahui, BSB diguyur Rp 631 miliar dari APBD Kaltim sejak 2011. Tahun ini menjadi akhir ketiga paket kontrak pelaksana pembangunan yang berasal dari BUMN. Progres rata-rata seluruh paket, terang Kepala Bidang Perhubungan Udara, Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltim, Hasbi, sudah mencapai 90 persen.

Dia merinci, paket I dan III yaitu bangunan pendukung sudah selesai 90 persen dan 93 persen. Sementara terminal penumpang yang masuk paket II, progres per akhir November 2013 adalah 85 persen.

Pembangunan sisi darat dengan total seluruh bangunan di sisi darat sebanyak 33 gedung dipastikan kelar akhir Desember, sesuai kontrak tahun jamak.

Sebagai gambaran, paket pertama sisi darat dikerjakan PT Pembangunan Perumahan (PP). Proyek dengan pagu anggaran Rp 310 miliar terdiri dari pekerjaan tanah, pengerasan dan drainase, external work, landscape, ATC centre, power station, power supply dan special equipment.

Ada pula  power substation, subpower station dan area chiller, main fire station, meteorological station, airport maintenance, workshop building, apron service building serta TX building.
 
Paket kedua bandara pengganti Bandara Temindung ini berupa design and build terminal penumpang. Bangunan terminal yang mengedepankan etnik daerah Kaltim ini sudah berdiri. Para pekerja PT Waskita Karya terus mengerjakan penyelesaian pekerjaan dengan nilai kontrak Rp 208 miliar.

Sementara paket ketiga berupa pekerjaan fasilitas pendukung sisi darat. Terdiri atas pekerjaan pengolahan air bersih (water treatment plant), ruang pompa, pengolahan limbah pabrik (sewage treatment plant), ruang bahan bakar, kantin, pusat medik, mes staf, gedung administrasi, hanggar, dan lain-lain.

Paket berisi bangunan penunjang ini memiliki nilai kontrak Rp 109 miliar dan dikerjakan PT Adhi-Tanjung (kerja sama operasi PT Adhi Karya dengan PT Putra Tanjung). Meskipun seluruh pekerjaan sisi darat dipastikan selesai akhir bulan ini, bandara tetap belum bisa beroperasi. Sisi udara terutama landasan pacu belum juga dibangun. (*/bby/ica/k7)