Selasa, 21 Oktober 2014

Dua Bulan Lagi BPJS Bangkrut

Dana Peralihan Habis, yang Daftar Cuma Orang Sakit
UTAMA | Jumat, 14 Maret 2014
SURABAYA - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) terancam bangkrut. Ini disebabkan jumlah pendapatan yang masuk dari iuran peserta tidak sebanding besarnya dana yang dikeluarkan untuk membayar kapitasi dan klaim pembayaran rumah sakit. Selama ini, BPJS banyak menggantungkan diri dari dana peralihan PT Askes menjadi BPJS.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Tono Rustiano mengatakan, Kemenkes menargetkan tahun ini jumlah peserta yang ter-cover menjadi peserta BPJS mencapai 121,6 juta orang. Hingga Februari lalu, jumlah peserta BPJS mencapai 117 juta orang. Dengan capaian sekarang, BPJS optimistis target itu bakal tercapai.

Sayangnya, kata Tono, sebagian besar peserta mandiri yang daftar menjadi peserta BPJS adalah mereka yang sedang sakit. “Sedangkan mereka yang sehat belum banyak yang mendaftar. Jika yang daftar banyak yang sakit, maka dana yang terkumpul tidak cukup untuk membiayai klaim dan kapitasi,” terangnya saat konferensi pers di Surabaya kemarin (13/3).

Dia mengungkapkan, selama ini, BPJS bisa membiayai kapitasi dan klaim rumah sakit karena terbantu dana peralihan dari PT Askes. Dana itu sekitar Rp 5,5 triliun. “Cukup enggak untuk ke depan? Tidak, jika yang daftar hanya mereka yang sakit saja,” terang Tono.

BPJS telah mengkalkulasi, setiap bulan, dana yang dibutuhkan untuk membayar kapitasi dan klaim pembayaran rumah sakit sekitar Rp 2 triliun. Misalnya, untuk membayar kapitasi di tingkat pelayanan primer saja dibutuhkan anggaran sebesar Rp 629 miliar per bulan. Dengan kalkulasi itu, dana peralihan dari PT Askes hanya cukup untuk membayar tagihan selama 2-3 bulan ke depan.

Karena itu, menurut Tono, BPJS juga membutuhkan orang-orang sehat untuk menjadi peserta mandiri. Dari perhitungan BPJS, jika ada 15 orang yang sakit, maka dibutuhkan sekitar 100 orang sehat untuk menjadi peserta. Karena itu, butuh dukungan banyak pihak untuk mendukung program ini. “Sebab, filosofis program ini gotong royong,” ungkapnya.

Tak hanya peserta mandiri, tapi juga perusahaan dan BUMN. Saat ini, baru 850 ribu peserta mandiri yang daftar. BPJS juga mendorong agar pemerintah daerah mendaftarkan warganya.

Namun, jika yang daftar hanya mereka yang sakit, BPJS bisa terancam bangkrut. Jika itu terjadi, maka dikembalikan ke pemerintah. Menurutnya, pemerintah akan mengambil kebijakan khusus. Sebab, badan ini tidak bisa dipailitkan, kecuali ada UU lagi.

Sekjen Kemenkes Supriyanto mengakui BPJS bisa jadi terancam bangkrut jika pesertanya kebanyakan orang sakit. Namun, Kemenkes optimistis hal itu tidak sampai terjadi. Karena itu, pemerintah terus mendorong agar warga Indonesia segera menjadi peserta BPJS. Alasannya, keuntungan dari program JKN ini bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Sebab, semua penyakit ter-cover program ini.     

Di samping itu, iurannya sangat murah. Syarat untuk menjadi peserta BPJS juga sangat sederhana. Cukup hanya melampirkan fotokopi KTP, fotokopi KK, dan pas foto. Tidak seperti syarat yang dicantumkan asuransi swasta atau komersial yang lebih sulit. Misalnya, calon peserta tidak boleh memiliki penyakit hipertensi.

Proses menjadi peserta juga mudah. Setelah syarat lengkap, mereka bisa memilih kelas dan melakukan pembayaran. Setelah itu, otomatis menjadi peserta BPJS. Proses ini berbeda dengan asuransi komersial karena masa berlaku kepesertaan bisa enam bulan mendatang. (kit/kim/jpnn/zal/k7)