Minggu, 24 Agustus 2014

Antara Tanjung Redeb dan Tanjung Selor

Telusur Tiga Ribu Kilometer: Berau-Bulungan-Malinau (6)
UTAMA | Sabtu, 22 Maret 2014 | dibaca: 1557 kali
Bertetangga tetapi berbeda provinsi. Tanjung Selor, dengan segala keterbatasan, mulai menggeliat sebagai ibu kota Kalimantan Utara (Kaltara). Sementara Tanjung Redeb, melesat dengan infrastruktur yang makin lengkap.
 
OBROLAN di ruang tunggu utama Bandara Kalimarau yang megah baru saja berakhir. Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak yang mendengar panggilan keberangkatan, bergegas menuju pesawat Bombardier tipe Canadair Regional Jet (CRJ) 1000 milik Garuda Indonesia.

Tengah Februari silam, Faroek bersama beberapa pejabat pemprov dan Direktur Utama BPD Kaltim Zainuddin Fanani, menuju landasan sepanjang 2.250 meter dengan lebar 45 meter. Beberapa turis asing turut serta dalam penerbangan ke Balikpapan.

“Kalimarau adalah contoh infrastruktur yang menjadikan suatu wilayah berkembang pesat. Saat ini, pemprov telah mengucurkan anggaran untuk berbagai lapangan terbang di perbatasan,” sebut Faroek kepada Kaltim Post, sebelum menaiki anak tangga ke pintu depan pesawat.

Berau kini menjadi kabupaten paling utara Kaltim selepas Kaltara terbentuk. Puluhan tahun lamanya, ibu kota Tanjung Redeb nyaris selalu terisolasi dari selatan. Jalur darat via Bengalon-Batu Ampar-Muara Wahau-Labanan-Kelay jauh dari kata baik. 

“Beberapa tahun lalu, kendaraan dari Samarinda bisa menginap di jalan jika hujan. Pernah bayi meninggal karena kehabisan makanan. Mereka terjebak dua malam di daerah Batu Ampar dan Gunung Kudung (Muara Wahau, Kutim),” tutur Mulyana, penjual makanan di tepi jalan Bengalon.

Enam bulan terakhir, Dinas Pekerjaan Umum Kaltim memperbaiki jalur utara dengan kucuran ratusan miliar rupiah. “Titik kerusakan terparah dicor beton,” terang Kepala Bidang Bina Marga, Dinas Pekerjaan Umum Kaltim, Suheriyatna. Kini, walaupun masih diperbaiki, tidak ada lagi medan berat. Waktu tempuh Samarinda-Tanjung Redeb via Muara Wahau sejauh 531 kilometer kembali normal, sekitar 14 jam.

Akses ke Berau makin banyak. Jalur baru di pesisir timur melalui Sangkulirang (Kutim)-Biatan (Berau) sudah terbuka. Jalan aspal nan mulus --kecuali permukaan tanah di sepanjang 80 kilometer kebun sawit di perbatasan Berau-Kutim-- memangkas waktu perjalanan menjadi hanya sepuluh jam. Namun, mobil masih menyeberangi sungai dengan kapal kayu.

“Tahun depan, Jembatan Nimbung di Sangkulirang mulai dibangun. Jadi tak perlu menyeberang dengan kapal lagi,” kata Suheriyatna lalu melanjutkan, “Provinsi juga sudah mengajukan permintaan jalan di perkebunan untuk jalan umum.”

Punya dua jalur yang mulai mulus, Berau kian gampang didatangi sejak Bandara Kalimarau beroperasi. Dibangun dengan APBD kabupaten sebesar Rp 450 miliar, gedung terminal yang megah dilayani empat maskapai.

Maka, berbondong-bondong orang datang ke Berau. Sebagian besar berurusan bisnis terutama pertambangan batu bara dan kelapa sawit, sebagian kecil turis.

Tanjung Redeb pun mulai sesak. Harga tanah dan properti melesat setelah bandara didarati pesawat berbadan besar. “Dulu, satu kaveling tanah hanya sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 70 ribu per meter persegi. Sekarang, dapat Rp 150 ribu (per meter persegi) saja sudah luar biasa,” ucap Khalid Lubis, warga Berau. Pemimpin sebuah unit bank pelat merah ini menambahkan, roda ekonomi Tanjung Redeb berputar berkali-kali lipat lebih cepat.

Bupati Berau Makmur HAPK turut mengakui, dua jalur darat yang mulai mulus, ditambah bandara, membuat Tanjung Redeb makin menggeliat. “Walaupun sudah ada bandara, jalur darat sangat penting. Di jalur provinsi menuju Biduk-Biduk (kecamatan terjauh di pesisir Berau, Red), tinggal 18 kilometer yang belum mulus. Jika diizinkan, pemkab akan memperbaiki,” ucap Makmur.

Dia berpendapat, terbentuknya Kaltara membuat peran Berau makin besar. Kabupaten seluas 34.074 kilometer persegi ini menjadi perlintasan kendaraan Kaltim-Kaltara.

Berau bakal makin ramai lagi. Sebuah perusahaan minyak dan gas lokal disebut siap beroperasi. Tak jauh dari Tanjung Redeb yakni di Birang, Kecamatan Gunung Tabur, satu sumur dieksplorasi sejak tahun lalu. Adelfi Continental Geopetro (AGC), swasta yang mengebor sumur gas di Berau, kata Makmur, sudah meneliti sepuluh sumur. Diprediksi, deposit gas mencapai 400 hingga 600 billion cubic feet (CBF). 

“Enam sumur dinyatakan layak, tinggal dua lagi. Sepengetahuan saya, ACG adalah perusahaan nasional,” imbuh Bupati Makmur yang dikenal santun dan ramah itu.

                                               ***

SETENGAH berjongkok, nenek bernama Mariana itu menanti tumpangan di jalur Tanjung Redeb-Malinau, dekat Desa Pimping, Kecamatan Tanjung Palas Utara, Bulungan. Dia baru saja memanen padi di ladang dan bersiap pulang pada suatu sore, setengah bulan silam.

Hampir setiap hari, perempuan tua yang tak fasih berbahasa Indonesia ini menanti mobil yang bersedia membawanya pulang. Jarak dari kebun ke rumahnya sekitar 5 kilometer.

Desa Pimping di Tanjung Palas Utara menjadi salah satu kampung yang dilewati jalur satu-satunya ibu kota Kaltara, Bulungan, menuju kabupaten terdekat Tana Tidung. Di desa inilah kerusakan paling parah.

Rute Tanjung Redeb-KTT-Malinau sepanjang 202 kilometer terhubung dengan 55 jembatan kecil. Di seluruh jalur, bertabur 305 titik kerusakan. Waktu tempuh pun mencapai lebih dari delapan jam.

Tahun ini, menurut Dinas Pekerjaan Umum Kaltim, disediakan dana bertahap dari pinjaman luar negeri untuk memperbaiki jalur berstatus nasional ini. Tak tanggung-tanggung, nilai pinjaman mencapai Rp 1,2 triliun.

Akses darat Tanjung Selor ke Tanjung Redeb sepanjang 103 kilometer juga masih kurang bagus. Setidaknya bila dibanding aspal mulus dari Samarinda-Balikpapan yang memiliki jarak hampir sama.

Akses darat dari dan menuju Tanjung Selor yang masih rusak membuat perkembangan kota berjalan lamban. Tak jarang, Pemprov Kaltara mengadakan acara di Tarakan, bukan di ibu kota.

Namun, penetapan Tanjung Selor sebagai ibu kota Kaltara melalui Undang-Undang 20/2012 membuat kota ini menggeliat. Dalam setahun, beberapa diler mobil berdiri. Ruko dan tempat perbelanjaan pun mulai dibangun.

Pada 2012 atau sejak penetapan ibu kota, sebanyak 8.029 kendaraan bertambah di Tanjung Selor. Tahun lalu, kendaraan bertambah lagi 9.520 unit.

Sementara hingga akhir Februari 2014, Satlantas Polres Bulungan mencatat 1.980 kendaraan baru. Lumayan mencengangkan bagi kabupaten berpenduduk 156.481 jiwa, seperti disebutkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Bulungan pada  Februari 2014 lalu.

Meski demikian pertambahan kendaraan dan geliat ekonomi belum diimbangi berbagai fasilitas. Ibu kota provinsi ini, misalnya, hanya memiliki sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum. Berdiri di Jalan Katamso, stasiun menjadi tempat yang paling dikerumuni pada pagi hari. Lewat tengah hari, pengendara kesulitan mencari bahan bakar --terutama solar.

Distribusi barang ke Tanjung Selor juga terbilang sulit. Kapal bermuatan sembako dari luar pulau harus mengantre berhari-hari untuk bongkar muat.

“Bisa tujuh atau delapan hari karena harus satu-satu,” jelas Kepala Dinas Perhubungan Bulungan, Hamidan. Pemkab sedang merencanakan membangun pelabuhan barang baru. “Masih studi kelayakan,” ucapnya.

Melihat Tanjung Selor dari satu sudut, seperti menengok Samarinda. Sama-sama ibu kota provinsi, Tanjung Selor berdiri tepat di tepi Sungai Kayan yang lebarnya nyaris sama dengan Sungai Mahakam. Kawasan tepian pun dibangun mirip seperti Tepian Mahakam. Begitu pun akses udara. Bandara Tanjung Harapan di Tanjung Selor setara dengan Bandara Temindung di Samarinda yang hanya didarati pesawat baling-baling.

Di sisi lain, kehidupan kota di Tanjung Selor berakhir lebih awal. Tak seperti Samarinda, jalan-jalan utama sepi mulai pukul sembilan malam. Lagi pula, Bupati Bulungan Budiman Arifin tidak pernah mengeluarkan izin tempat hiburan malam.

“Tidak masalah jika sepi. Di sini, warga berzikir pada malam hari,” ucapnya ketika ditemui koran ini. Tentang infrastruktur Tanjung Selor, Bupati mengakui masih banyak yang kurang. “Tidak bisa sekalian dibangun. Harus bertahap, bukan?” tutupnya. (bersambung/zal/k7)