Jum'at, 03 September 2010
 
  Hot Topics : Ekonomi - Utama
LOGIN    |    REGISTER    |    FORGET PASSWORD   
Mahkamah Agung (MA) langsung pasang badan terkait pemberian grasi kepada mantan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Kaltim Syaukani Hassan Rais yang menimbulkan sorotan beberapa kalangan
   
Jum'at, 30 Januari 2009 , 08:26:00

SUPER-NAHAS: Aparat segera mensterilkan lokasi kecelakaan helikopter Super Puma milik maskapai Pelita Air di hanggar Lapangan Terbang Pondok Cabe, Tangerang, Banten (29/1). Wartawan dan juru kamera yang sedang bertugas pun dilarang mendekat.(RAKA DENNY/JP)
JAKARTA – Kecelakaan kerja terjadi di Bandara Pondok Cabe, Tangerang, kemarin. Sebuah helikopter Super Puma milik maskapai carter Pelita Air Service (PAS) yang sedang ”diperiksa” mendadak oleng dan berjungkir balik di tanah. Akibatnya, dua mekanik tewas tersambar baling-baling heli, sementara pilot dan seorang teknisi lain yang berada di kokpit selamat.
Kedua korban tewas adalah Ahmad Suparja, 54, warga Kampung Gondrong, Tangerang; dan Sri Setiabudi, 44, warga Perumahan Bumi Pelita Kencana Blok A Pondok Cabe, Tangerang, Banten. Untuk keperluan autopsi, kedua jenazah dievakuasi ke RS Fatmawati. Sementara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih menyelidiki penyebab kecelakaan yang terjadi pukul 10.00 WIB tersebut.

”Kami sudah mengirimkan dua investigator untuk menyelidiki kecelakaan itu, yaitu Capt Toos Sanitioso sebagai Inspector In Charge (IIC) dan Sulaeman,” ujar Ketua KNKT Tatang Kurniadi saat dikonfirmasi kemarin.

Heli nahas bernomor registrasi PK-PUH itu bukan terjatuh dari udara. Kecelakaan terjadi saat heli masih menjejak tanah di depan hanggar. Heli itu diperkirakan terbalik karena kehilangan keseimbangan.

”Helikopter tidak sedang terbang atau hendak terbang, tetapi sedang pemeriksaan rutin,” terang Tatang.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan Bambang S. Ervan menambahkan, selain KNKT, Dephub mengutus dua inspektur untuk menyelidiki peristiwa ini. Yakni seorang pilot yang bertindak sebagai principal operations inspector (POI) dan seorang teknisi sebagai principal maintenance inspector (PMI).

”Keduanya utusan dari Direktorat Kelaikan Pesawat dan Operasi Penerbangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara,” ungkapnya.

Bambang menjelaskan, informasi yang diterimanya, heli yang dipiloti Capt. Rahman Adi itu oleng ke kiri dan terjatuh saat melakukan ground run up. Itu adalah pemeriksaan rutin untuk mengecek segala fungsi peralatan tanpa harus diterbangkan. 

”Bisa dibilang, saat mesin dihidupkan, helikopter kehilangan kendali dan langsung terguling. Banyak teori yang bisa menjadi penyebab kecelakaan ini,” jelasnya.

Beberapa pendekatan mungkin bisa memperkirakan menjadi penyebab kecelakaan. Di antaranya, menurut Bambang, putaran RPM (rotation per minute) yang tidak sama antara baling-baling utama dan baling-baling belakang. Atau, baling-baling belakang mati sehingga tidak ada penahan dorongan angin dari baling-baling utama.

”Selain itu, heli jenis Puma kan baling-baling utamanya bisa miring ke kiri atau ke kanan. Tidak seperti Bolco yang fixed (tetap). Barangkali kemiringannya terlalu tajam. Bisa karena operatornya atau baling-balingnya yang nggak benar,” tambahnya.

Setelah kejadian itu, heli Super Puma berwarna dasar putih dengan strip merah bertuliskan Pelita Air itu langsung ditutupi dengan terpal biru. Heli nahas itu dikabarkan rusak parah. Empat ruas baling-baling utama patah, sementara bodi penyok. Kaca kiri dan depan juga hancur. Itu bisa dimaklumi, karena heli tersebut terempas dengan keras ke tanah. Evakuasi dilakukan kira-kira pukul 12.30. Heli ditarik ke dalam hanggar.

Sementara itu, kondisi kedua jenazah cukup mengenaskan. Tubuh Ahmad Suparja terpotong di beberapa bagian. Sedangkan tubuh Sri Setiabudi terbelah di bagian dada dan tangan kiri. Keduanya tewas akibat terkena baling-baling helikopter.

Corporate Secretary Pelita Air Service Guntur Winarko mengatakan, PAS siap memberikan asuransi kepada dua teknisi yang tewas tersebut.

”Ini termasuk kecelakaan kerja, asuransi ditanggung Jamsostek. Hitung-hitungannya kita masih belum bisa jawab,” tuturnya.

Guntur mengungkapkan, heli Super Puma tersebut buatan Prancis 1983. Heli tersebut selama ini disewakan, baik untuk jangka panjang atau pendek. Penyewanya rata-rata perusahaan migas. Heli yang menewaskan dua orang tersebut, menurut dia, masih layak terbang. Terakhir kali digunakan pada 27 Januari lalu.

”Ini musibah, teknisi memang harus dekat heli. Prosedurnya memang seperti itu. Tapi, apakah ini human error atau apa, kita masih selidiki,” jelasnya.

Super Puma yang dipakai Pelita Air sebenarnya rakitan IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) –yang berganti nama menjadi PT DI (Dirgantara Indonesia)– atas lisensi Aerospatiale, Prancis. Super Puma dibuat sebagai versi yang lebih besar dari model sebelumnya, Puma. Helikopter jenis ini sangat laku di seluruh dunia. Lebih dari 1.000 perusahaan memiliki helikopter itu, dan lebih 37 negara memiliki versi militernya. Sejak 1990, versi militer Super Puma mendapat nama baru: Cougar. (wir/nw)
 
 
Komentar Anda mengenai berita "Disambar Baling-baling Heli, Dua Tewas"
 
   
 
 
Kolom Dahlan Iskan
Tarawih di Beijing dengan Mazhab Hambali
Catatan: Dahlan Iskan  SUDAH tiga kali saya Idulfitri di Tiongkok, tapi baru sekali ini merasakan salat Tarawih di sana. Dua hari berturut-turut saya ke Masjid Niu ...
Other
 
Kolom Zainal Muttaqin
Peduli Balikpapan
Catatan: Zainal Muttaqin   JANGAN berharap kaya dengan menjadi wali kota, karena memang tidak mungkin. Saya sudah merasakan sendiri. Demikian diungkapkan oleh T ...
Other
 
Kolom Redaksi
Eksodus ‘Kemiskinan’
MARHABAN ya Ramadan. Puji syukur kehadirat Allah SWT, kita umat muslim masih diberi kesempatan bertemu bulan yang penuh berkah. Bulan yang lebih mulia dari seribu bulan lai ...
Other
 
Kolom Pembaca
Perbatasan
Perbatasan tampaknya menjadi tema sentral belakangan ini. Dinamika dan kompleksnya permasalahan, membuat selalu dibicarakan, didiskusikan, diteorikan, diberitakan dan dijad ...
Other
 
Home Utama Balikpapan Samarinda Pro Kaltim Special Nasional Ekonomi Kaltim Rubrik Olahraga Hiburan
Our Network
JAWA - BALI - NUSATENGGARA: Jawa Pos - Rakyat Merdeka - Radar Bogor - Radar Cirebon - Radar Tegal - Lombok Post - Timor Ekspress - Radar Surabaya - Indo Pos - Radar Tasikmalaya - Radar Banten SUMATERA: Batam Pos - Sumatera Ekspres - Palembang Pos - Radar Lampung - Jambi Ekspres - Pekanbaru MX - Rakyat Aceh - Radar Tuba - Radar Palembang - Rakyat Lampung - Radar Lamteng - Radar Lamsel - Radar Tanggamus - Radar Kotabumi - Radar Metro - Rakyat Bengkulu - Jambi Independent - Riau Pos - Pekanbaru Pos - Dumai Pos - Pos Metro Batam - Padang Ekspres - Pos Metro Padang - Sumut Pos KALIMANTAN: Pontianak Post - Equator - Metro Pontianak - Metro Singkawang - Kapuas Post - Kun Tian Ri Bao SULAWESI: Fajar -Palopo Pos - Pare Pos - Ujung Pandang Ekspres - Manado Post - Gorontalo Post - Berita Kota Makassar - Kendari Pos - Kendari Ekspres MALUKU: Malut Post - Ambon Ekspres IRIAN: Cenderawasih Pos - Radar Sorong - Radar Timika MAJALAH:Tabloid Nurani - Oto Trend - Tabloid Nyata NEWS PORTAL: MyRMNews - Sumut Cyber - Riau Today - Batam Cyberzone KALTIMPOST GROUP: Kaltim Post - Radar Banjarmasin - Post Metro Balikpapan - Samarinda Pos - Radar Tarakan - Kalteng Pos - Radar Sampit - Radar Sulteng RADIO PORTAL: KaPe FM - RT FM