BUKAN BISNIS SEMATA: Setelah bekerja asama dengan Kura-Kura Aviation, Airvan yang dikelola MBS bisa dapat laba sebelum audit Rp 500 juta-Rp 600 juta.
BULAN Mei 2010 mendatang, sudah 3,5 tahun Sabri Ramdhany menjabat Dirut Perusda Melati Bhakti Satya (MBS), sekaligus akan mengakhiri masa baktinya. Pertanyaan yang muncul, apa saja yang sudah dicapai, dan bagaimana prospek perusda MBS ke depan?
“Jika ukurannya saat awal bertugas dan hasil yang dicapai 3 tahun terakhir ini, ya relatif jauh lebih maju. Tapi, jika ditanya soal kepuasan, saya belum puas. MBS masih perlu waktu untuk lebih berkembang lagi. Tiga tahun ini upaya meletakkan pondasi awal penguatan perusda, itu sudah dapat dicapai,” kata Direktur Utama (Dirut) Perusda MBS Sabri Ramdhany ketika ditanya media ini, kemarin petang.
Ditanya kemungkinan meneruskan jabatan dirut MBS periode kedua setelah Mei 2010 nanti, menurut Sabri, tergantung penilaian pihak-pihak berkepentingan. “Jika masih dipercaya, saya siap. Tapi jika sudah dianggap tidak mampu berkembang, saya juga siap mengakhirinya,” tandasnya yang bertekad awal mengelola perusda MBS tidak membebani APBD, dan juga tidak mengalami kerugian.
Sabri yang sedang menyelesaikan kandidat doktor studi ekonomi makro dari Universitas Airlangga Surabaya ini mengawali tugasnya menyaksikan MBS sedang terlilit banyak masalah. “Kesiapan awal memimpin perusda MBS kala itu, karena saya pernah bekerja di BUMN, juga sudah terjun praktik sebagai pengusaha, tinggal mencari kiat dan memadukan peluang yang ada,” cerita Sabri yang tinggal di Balikpapan ini.
Masalah berat internal MBS kala itu, tidak lain terkait penyelesaian kasus hukum pembelian 4 pesawat GA8 Airvan kapasitas 8 tempat duduk dari Australia. Pesawat itu tidak dapat beroperasi, sekaligus tidak menghasilkan apa-apa bagi perusda. Unit usaha lainnya, seperti devisi pariwisata, devisi jasa umum berupa usaha percetakan dan pengelolaan parkir juga belum menunjukkan tingkat pendapatan yang memadai.
Modal perusda MBS saat itu sebesar Rp 32,5 miliar, terdiri modal dasar Rp 5 miliar dan sisanya Rp 27,5 miliar merupakan pembelian 4 pesawat Airvan. Masalahnya, modal dasar Rp 5 miliar itu pun disita aparat hukum terkait penyelesaian kasus hukum pembelian pesawat Airvan itu. Dapat dibayangkan jika modal dasar perusda saja ternyata tidak dapat dimanfaatkan dan bermasalah, betapa rumitnya manajemen baru mengambil langkah-langkah.
Walau demikian, berbekal pengalaman sebagai pengusaha dan kerja di BUMN, Sabri harus mengambil langkah dan tidak boleh diam sekadar melihat masalah saja. Untuk memprbaiki imej dan citra perusahaan, Sabri segera membuat logo perusahaan dengan gambar seperti sayap-sayap terbang. Kemudian dia membenahi kapasitas staf dan pegawai MBS, membuka jaringan kerja dan peluang usaha, meningkatkan lobi dan komunikasi, memperbaiki sistem pelaporan keuangan, dan lain-lain.
Semua masalah di perusda MBS harus diurai, dibenahi dan ditata ulang satu per satu. Dari hal kecil, sampai yang besar-besar. “Bersyukur, tiga tahun ini dasar-dasar itu sudah relatif jelas dan terarah,” katanya.
Salah satu konsep yang dipakai memacu perusda MBS, lanjut Sabri adalah memperkenalkan dan melaksanakan nilai-nilai perusahaan, yakni aspek orientasi konsumen, pentingnya arti sebuah komunikasi, mendorong sikap profesional, membangun tim kerja yang kuat, memperhatikan reward dan tegaknya integritas.
Apa saja kemajuan yang sudah dicapai perusda MBS tiga tahun terakhir ini? Fakta yang terungkap, misalnya, peningkatan penyertaan modal pemda untuk perusda MBS dari Rp32,5 miliar, sekarang menjadi Rp3 triliun. “Peningkatan penyertaan modal pemda Rp3 triliun itu telah disetujui melalui Perda No 18/2008, tanggal 15 Desember 2008 lalu. Ini dukungan yang bagus untuk pengembangan MBS,” katanya.
Selain itu, terbukanya peluang pemanfaatan aset Kaltim seperti Hotel Pandurata di Jakarta, pemanfaatan lahan Pusat Studi Islami Balikpapan, Kawasan Industri Kariangau di Balikpapan dan lain-lain melalui kerja sama bagi hasil dan saling menguntungkan. “Terbukanya kerja sama usaha dengan memanfaatkan aset daerah melalui perusda MBS, maka praktis membuka peluang yang lebih besar bagi MBS melaksanakan visi, misi dan strategi perusahaan secara otimal,” ucapnya.
Mengenai pengoperasian pesawat Airvan dan usaha divisi transportasi, Sabri mengakui memerlukan perhatian dan menyedot energi luar biasa. Pembenahan, koordinasi dan lobi-lobi perlu dilakukan secara intensif, termasuk penggalian sumber dana. “Ingat, penerbangan Airvan untuk warga pedalaman, perbatasan ini membawa misi pembangunan, tidak bisa dilihat murni bisnis. Di sisi lain, operasional pesawat perlu dana besar. Di sini perlu koordinasi dan lobi, MBS tidak bisa jalan sendiri,” ujarnya.
Buah penataan itu, menurut Sabri, sudah menampakkan hasil. Misalnya, pengalihan kerjasama penerbangan dari PT DAS ke Kura-Kura Aviation, termasuk memperbaiki isi perjanjian. “Melalui kerja sama dengan manajemen Kura-Kura Aviation, jasa usaha transportasi dengan pengoperasian pesawat Airvan telah mampu menghasilkan laba sebelum diaudit mencapai Rp500-600 juta tahun 2009 ini,” kata Sabri.
Penerbangan Airvan tahun 2010 khususnya untuk warga pedalaman dan kawasan terpencil, menurutnya, layak diteruskan, namun tetap perlu subsidi dana dari Pemprov, kabupaten dan kota. “Kita juga perlu mengembangkan kawasan pertumbuhan ekonomi baru, sekaligus memacu ekonomi rakyat Kaltim yang jauh di pedalaman dan perbatasan itu. Infrastruktur penerbangan seperti peningkatan kualitas bandara perintis dan jasa usaha penerbangan sangat penting sekali dibenahi. Mimpi kita perusda MBS mampu menyetor ke kas daerah ratusan miliar ke atas, bukan hanya ratusan juta setahun. MBS tidak ingin membebani APBD dan tidak ingin merugi,” tandas Sabri lagi. (sofyan masykur).