YANG bekas-bekas identik dengan rongsokan? Tidak selalu. Furnitur atau mebel, misalnya. Semakin ia tua dan antik, orang-orang tertentu justru banyak memburunya untuk penghias rumah. Apalagi kalau sudah suka, harganya menjadi beda dari barang biasa pada umumnya.
Adanya perabot antik di dalam rumah, bukan hanya berfungsi menghadirkan kesan tempo dulu yang elegan. Namun tetaplah perlu pemikiran ketika menempatkannya dalam ruangan, apalagi untuk rumah yang bergaya modern. Salah-salah malah dibilang aneh. Karena mebel antik biasanya digunakan dalam rumah bergaya klasik. Bukan hanya itu.
Mebel bekas juga kini menjadi bagian dari rumah minimalis modern. Saat ini sebagian masyarakat menyukai mebel yang bertentangan dengan gaya arsitektur rumahnya. Sekilas memang tampak kurang pas, tapi daya tariknya tetap ada. Kenapa? Karena sebetulnya rumah minimalis modern tidak memiliki patokan tertentu, karena biasanya semua jenis furnitur bisa masuk.
Kaltim Post mendokumentasikan beberapa foto dari sudut disain rumah di beberapa daerah di Jawa Timur. Siapa tahu menginspirasi, ada yang menggunakan potongan bambu kecil-kecil untuk pagarnya. Ada yang dipasang batu bata khusus dan tidak disemen, namun tetap tampak elegan, ada juga ruangan dalam yang dipagari dengan batu bata yang disetting unik. Tinggal melengkapinya dengan furniture baru atau antik.
Di Balikpapan, adalah dr A Sri Juliarti, seorang yang menggemari furnitur unik dan antik sebagai pelengkap hiasan interior rumahnya. “Kadang susah memburunya, tapi ketika kita dapatkan, nilai kepuasannya lebih tinggi,” serunya. Pengguna mebel antik saat ini memang masih kalah banyak dari mebel modern. Maklum, saat ini gaya arsitektur yang banyak diminati adalah gaya modern minimalis.
Untuk memperkuat karakter modern minimalis itu, furnitur yang digunakan biasanya didominasi unsur logam. Ini berbeda dengan gaya klasik menggunakan unsur kayu. Tapi menurut Juliarti, itu bukan berarti furnitur antik kehabisan peminat. Belakangan banyak orang yang tetap memakai sejumlah mebel antik, walau rumahnya tidak bergaya klasik.
Agar variasinya tidak monoton, di rumahnya, perempuan yang akrab disapa Dio itu mengkombinasikan furnitur dari beberapa daerah ; Bali, Jogja, dan Lombok. “Dicampur-campur begitu, agar kesannya rumah jadi lebih berwarna. Kadang mencari aksesori atau barangnya saat kebetulan sedang tugas keluar kota,” sebut Dio. Bagi mereka penggemar furnitur antik, ada dua jenis yang wajib diketahui.
Pertama, furnitur yang memang benar-benar antik lantaran umurnya sudah tua. Perabot yang diproduksi sekitar tahun 1950-an sudah bisa masuk kategori antik asli. Kedua, furnitur antik tiruan atau biasa disebut furnitur repro atau reproduksi alias replika. Furnitur seperti ini hanya gayanya saja yang klasik, tapi baru dibuat di masa kini. Agar terlihat benarbenar seperti furnitur antik, furnitur replika ini sengaja dibuat dari kayu bekas.
TERGANTUNG SELERA PEMILIK
Meski sudah bekas, tak jarang harga furnitur antik jauh lebih mahal dari furnitur baru. Sebab untuk mendapatkannya, harus berburu hingga ke pelosok-pelosok daerah. Lebih-lebih kalau kondisinya sudah sedikit kurang tertata, kadang perlu keluar duit lagi untuk mendandaninya. Saran bagi yang ingin menghiasi rumahnya dengan disain atau perabotan antik, letakkanlah furnitur itu di tempat-tempat yang menjadi pusat perhatian.
Seperti di ruang tamu, ruang keluarga atau di sudut-sudut ruangan yang tertangkap oleh mata, sepanjang itu sesuai dengan selera Anda. Idealnya, rumah-rumah bergaya klasik memang menggunakan furnitur yang mendukung desain arsitekturnya, yakni yang modelnya klasik juga. Misalnya, furnitur yang digunakan harus memiliki banyak motif seperti bunga, burung dan lain-lain.
Motif-motif itu biasanya diukir di atas permukaan furnitur, sehingga mengingatkan orang pada rumah-rumah tempo dulu. Agar benar-benar serasi, rumah bergaya klasik harus dilengkapi dengan furnitur bekas berbahan kayu.(adm/berbagai sumber)