Sejak terpilih menjadi wakil wali kota pada Pilkada 2006 lalu, Rizal Effendi bersama Wali Kota Imdaad Hamid bertekad untuk meneruskan cita-cita pemimpin pendahulu untuk menjadikan Balikpapan sebagai kota jasa, pariwisata dan perdagangan.
INI bisa dimaklumi, karena Balikpapan tak punya kekayaan alam melimpah seperti yang dimiliki Kukar, Bontang, Kutim, atau kabupaten/kota lainnya di Kaltim. Satu-satunya cara untuk bisa mendongkrak pembangunan adalah dengan memanfaatkan posisi Balikpapan sebagai daerah terbuka untuk menarik investor sebanyak-banyaknya.
Agar investor tertarik, maka Balikpapan harus menyiapkan fasilitas dan infrastruktur pendukung. Seperti hotel, convention centre, pusat-pusat perbelanjaan, sarana hiburan. Keberadaan fasilitas itu juga bisa mengambil peran untuk mengakomodir kebutuhan investor yang ingin membuka jaringan ke kota-kota tetangga. “Konsepnya sama seperti Singapura. Di sana, apa saja dibangun.
Meski mungkin tidak berguna bagi rakyatnya, tapi bermanfaat untuk negara lain. Nah, Balikpapan mau meniru itu. Menyiapkan fasilitas yang tidak dimiliki daerah lain,” beber Rizal. Sejauh ini, fasilitas yang dibutuhkan sudah ada dan cukup representatif. Tapi jumlahnya masih kurang, dan harus terus ditambah terus. Itu sebabnya, dia bersama wali kota sangat respons jika ada investor yang ingin membangun mal, hotel, atau convention centre.
Karena semua bisa berdampak pada pembentukan imej Balikpapan sebagai kota Jasa dan Perdagangan. “Keberadaan bandara Sepinggan dan pelabuhan Semayang juga sangat membantu arus investasi masuk ke Balikpapan,” sambunagnya. Nah, untuk bisa mengelola kota sesuai visi-misi yang sudah diprogramkan, tentu diperlukan kualitas sumber daya manusia yang memadai.
Hal itu bisa dicapai jika setiap warga mendapat pendidikan yang berkualitas pula. Dan Balikpapan sudah mengantisipasi itu dengan membangun Politeknik Balikpapan (Poltekba) yang dirintis Wali Kota Imdaad Hamid sejak belasan tahun lalu. “Wali Kota punya mimpi, seluruh siswa Balikpapan bisa melanjutkan pendidikan di Poltekba. Setelah lulus, ilmunya diabdikan untuk membangun kota,” kata Rizal.
Sebagai bukti keseriusan menjadikan Poltekba perguruan tinggi bergengsi, saat ini sedang diurus peningkatan status Poltekba jadi negeri. “Kita sedang berjuang di Jakarta. Insya Allah berjalan lancar,” harapnya.
KEJAR TARGET
Kini, sudah 4 tahun Rizal memimpin Balikpapan. Di akhir masa jabatannya yang tinggal setahun lagi, ia merasa masih ada sejumlah program yang belum berjalan maksimal, di samping program lain yang sudah menampakkan hasil baik.
Dai sisi infrastruktur, ada proyek yang tersendat. Ini terjadi karena kendala pembebasan lahan. Selain itu, anggaran dari APBD juga terbatas. “Masyarakat harus bisa memahami kondisi ini. Kami maunya semua bisa cepat selesai, tapi ada keterbatasan,” katanya.
Hal lain yang juga jadi perhatian khusus adalah pengentasan kemiskinan, masalah kesehatan, dan pendidikan. Kasus DBD misalnya, setiap tahun demam berdarah terus terjadi dan mengancam jiwa warga. “Ke depan, ini harus diperbaiki. Sistemnya dievaluasi, sehingga kasus-kasus itu tidak terjadi lagi.(indra nuswa)