BALIKPAPAN - Ini peringatan bagi warga Balikpapan. Terutama bagi yang mempunyai anak di bawah umur dan belum diimunisasi. Ade Aditya (5 tahun) warga Manggar yang mengidap difteri dinyatakan meninggal dunia di RS Kanudjoso Djatiwibowo, Minggu (7/2) kemarin sekira pukul 07.15 Wita.
Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan Dyah Muryani menjelaskan, awalnya Ade dirawat di Rumah Sakit Tentara Balikpapan (RSTB). Namun setelah itu dirujuk ke RSKD. “Di RSKD baru dirawat dua hari, tapi apa daya nyawa bocah laki-laki ini enggak tertolong lagi,” kata Dyah ketika dihubungi kemarin.
Ia menambahkan, indikasi penyebab kematian Ade terletak pada keterlambatan rujukan. Seandainya tidak terlambat, kemungkinan besar, sebut Dyah, nyawanya masih dapat tertolong. Toxin korin bakteri difteria, sambung dia, sudah menjalar ke jantung dan membuat pernafasan Ade terganggu.
Pada bulan Januari lalu, lanjut Dyah, seorang gadis berusia 6 tahun warga Gunung Sari Ilir juga sempat positif penyakit difteri. Namun akhirnya dapat disembuhkan secara perlahan karena penanganan yang tepat dan cepat.
Harian ini kesulitan mencari informasi lebih lengkap mengenai kronologi kematian Ade, termasuk keterangan seputar penyakit yang diidapnya. Namun pihak RSKD melalui petugas Ruang Isolasi Soka B enggan membeberkan data lebih jauh. “Kami enggak bisa kasih keterangan lengkap,” kata pegawai RSKD saat dihubungi kemarin.
Sebelumnya, Dyah menjelaskan, difteri adalah infeksi akut yang menyerang pernapasan. Tanda-tanda awalnya mirip flu, tapi di rongga leher penderita terlihat warna putih dan bengkak. Sebenarnya, jelas Dyah, penyakit ini bisa dicegah dengan vaksin saat masih bayi. Yakni, vaksin DPT 1, 2, dan 3. Tapi, kata dia, saat ini ada saja beberapa warga yang masih enggan anaknya diimunisasi karena berbagai alasan.
Dyah menambahkan, penyakit ini disebabkan bakteri yang menyerang semua usia, terutama balita yang belum diimunisasi. Apabila penderita tidak segera ditangani, difteri bisa menimbulkan racun yang sangat berbahaya. Karena, bisa menyerang otot jantung, ginjal, dan jaringan syaraf
Dyah juga pernah menuturkan, jika difteri ini merenggut nyawa warga Balikpapan, maka Kota Minyak bisa ditetapkan KLB, sebab difteri bisa menular dengan sangat cepat. (*/ede)