|
Senin, 08 Februari 2010 , 08:17:00
TAMPIL sebagai tim underdog, tidak membuat nyali tim pedayung Kubar ciut. Masuk babak final dengan catatan waktu paling buncit dibanding 3 kontestan lain, Macan Dahan tampil memukau. Berada di lintasan 4, di dua ratus meter terakhir, tim ini menyodok ke urutan depan dan akhirnya juara dengan catatan waktu 2 menit, 41,86 detik.
Tim dayung ini memilih nama Macan Dahan, yang tak lain hewan langka di Kubar yang diabadikan lewat sebuah patung di lingkungan perkantoran Pemkab Kubar. Terbentuk pada pertengahan 2009, tim ini awalnya hanya mengikuti kompetisi tingkat kecamatan di Kubar.
Untuk stok atlet, ketika baru dibentuk, pengurus Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Kubar agak kesulitan mencari. Akhirnya, para nelayan yang masih berusia muda pun menjadi target. Pencari ikan yang biasa hilir mudik di Sungai Mahakam, dibina menjadi atlet dayung.
Pilihan yang tepat, lantaran secara fisik dan teknik, nelayan tadi lumayan menguasai. “Usianya rata-rata 24 tahun dan fisiknya kuat. Kami tinggal memberikan latihan teknik serta kekompakan,” terang pelatih tim Lasah Unat dan Rafiq. Latihan mereka, di Danau Kelumpang, Kecamatan Mook Manaar Bulatn, Kubar.
Biar begitu, bukan berarti tidak ada hambatan. Lasah bercerita, untuk mengumpulkan para atlet berlatih lumayan sulit. “Soalnya begini, mereka ‘kan harus bekerja dulu mencari ikan, setelah itu baru latihan,” tambahnya. Alhasil, latihan hanya digelar 3 kali sepekan.
Uniknya lagi, tim ini langsung juara tingkat nasional. Padahal, baru di festival ini Macan Dahan ambil bagian. “Sebelumnya, hanya juara tingkat kecamatan se-Kubar saja. Kami baru kali ini bertanding di luar Kubar. Tapi, dari awal kami sudah targetkan menang. Bukan sombong, tapi kalau orang lain bisa, kenapa kami tidak?” timpal Rafiq dengan nada tanya.
Lantas, berapa lama tim ini menyiapkan diri bertanding di festival yang diikuti 28 tim tersebut? Lasah menyebut, anak asuhnya baru sebulan ini menambah porsi latihan. “Persiapan kurang lebih sebulan dan hasilnya luar biasa. Tapi ini tentu bukan akhir, masih banyak kejuaraan yang harus diikuti,” terangnya, sembari menambahkan, belum mengetahui kejuaraan selanjutnya yang akan diikuti.
Sebelum ini, Kaltim Post pernah berbincang-bincang dengan Ketua PODSI Kubar Nanang Arifin. Kala itu, Nanang bercerita, tim dayung yang baru dibentuk itu sengaja mencari atlet sebagai bibit muda yang biasa hidup di sungai.
Di festival kemarin, Macan Dahan membawa 14 atlet, terdiri dari 12 pendayung, satu penabuh gendang, dan seorang pengendali kapal, ditambah 2 pelatih. “Yang jelas, atlet-atlet kami yang sebagian besar bujangan itu sangat bersemangat, baik saat latihan maupun bertanding,” tambah Rafiq.
HADIAH RP 85 JUTA
Jika dalam babak 16 besar, Paser mengirimkan empat wakilnya, hanya satu tim Paser yang lolos babak final. Sedangkan tuan rumah Balikpapan, meski mempunyai 2 tim di semifinal, harus puas dengan tidak menempatkan satu pun wakilnya di final.
Dalam festival kemarin, tim PODSI Jambi berada di urutan kedua dengan catatan waktu 2 menit 48,18 detik, diikuti Sama Taka dari Paser dengan 2 menit 50,48 detik, dan di tempat keempat tim Penajam Paser Utara (PPU) A dengan 2 menit 50,94 detik.
Sebenarnya, saat final, tim PPU A menjadi terdepan di hampir 500 meter pertama. Tapi, dari 700 meter yang dilombakan, PPU A justru melambat dan disalip ketiga rivalnya. Sedangkan total hadiah dalam festival ini yakni Rp 85 juta untuk uang pembinaan. Nilai itu, disebut sebagai total hadiah terbesar dari even serupa di Tanah Air. Saat penyerahan hadiah dan penutupan, hadir Wakil Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi.
Festival bertempat di pantai belakang Plaza Balikpapan, di mana penyisihan dimulai sejak Sabtu (6/2) lalu . Sebanyak 28 tim dibagi dalam 7 grup, dengan 4 tim setiap grup. Ketua Panitia pelaksanaan Festival Perahu Naga Kapten Haris Bennu dari Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Balikpapan mengatakan, festival ini adalah kali kedua memperingati HUT Balikpapan. “Juga, perahu naga juga masuk di salah satu cabang olahraga (cabor) yang akan dipertandingkan di PON XVIII nanti,” tutup dia. (felanans mustari)
|