|
Senin, 08 Februari 2010 , 08:30:00
BERBAGAI macam pertanyaan dan keluhan mengenai masalah pendidikan. Mulai langkah pemerintah menyikapi anak-anak jalanan putus sekolah yang sering ditemui di simpang jalan hingga masalah siaran televisi yang dianggap dapat merusak perilaku para pelajar. Seperti curhat Dedy Jatmiko, siswa SMA Al-Mujahidin dan Haerika siswi MAN 2 Model Samarinda, yang mendapat tanggapan serius dari Wawali.
Syaharie mengatakan Pemkot Samarinda telah mengambil langkah serius mengatasi masalah pendidikan di kota Samarinda, karena memang untuk pendidikan pemerintah telah menyediakan anggaran cukup besar yang diambil melalui APBD. Misalnya, masalah anak jalanan yang putus sekolah, sebenarnya Dinas Pendidikan (Disdik) Samarinda telah membuka kelas khusus bagi mereka yang ingin mengenyam pendidikan sambil bekerja.
"Disdik telah menyediakan sarana belajar untuk mereka yang putus sekolah, khususnya bagi anjal (anak jalanan), dengan menjemput anak-anak ini di beberapa titik tertentu saat jam-jam kosong dengan memberikan materi yang sesuai pilihan mereka," ucap Wawali.
Mengenai masalah siaran televisi, Syaharie mengaku sepakat dengan program Menteri Kominfo yang rencana membatasi penyiaran televisi yang dianggap tidak layak ditonton anak-anak berusia di bawah umur.
Sedangkan Pemkot sendiri lanjutnya, sekarang telah intens melakukan razia VCD porno yang marak dijual di emperan jalan. Hal ini bertujuan untuk menekan perilaku para pelajar yang mengarah kepada pergaulan bebas, karena akibat dari siaran televisi dan film porno yang sekarang mudah ditemui.
"Saya sudah tekankan kepada guru-guru di sekolah agar selalu rajin merazia para siswanya yang sering membawa HP ke sekolah. Kemajuan teknologi sekarang ini membuat anak-anak dengan mudah untuk mengakses hal-hal negative. Untuk itu kontrol dan pembinaan di sekolah maupun di rumah tidak boleh lepas," tegasnya.
Kegiatan belajar tidak hanya sekadar mengejar intelektual, tetapi harus diimbangi dengan pembinaan agama di sekolah. "Agama harus dijadikan kurikulum belajar yang utama bagi sekolah umum, tidak hanya di pesantren dan juga harus dilibatkan di dalam ekstra kulikuler seperti belajar mengaji dan juga kegiatan perayaan hari besar agama," tandasnya.
Sedangkan terkait masalah fasilitas pendidikan yang menjadi kendala di beberapa sekolah seperti yang dialami SMA Negeri 2, sekarang ini sambung Syaharie, akan menjadi perhatian khusus bagi Pemkot Samarinda. Karena pemerintah tidak akan membiarkan fasilitas dan gedung belajar yang bermasalah nantinya akan menganggu proses belajar bagi siswa.
Begitu juga mengenai para pelajar tersangkut hukum yang saat ini di dalam rumah tahanan, dirinya telah berkoordinasi dengan Disdik Samarinda agar dibukakan kelas khusus bagi mereka yang berada di Rutan.
Kekecewaan disampaikan pula terhadap pekerjaan gedung SMAN 2. "Saya pastikan untuk bangunan gedung SMA Negeri 2 dalam beberapa bulan ini sudah bisa dinikmati para pelajarnya. Memang saya sempat kecewa karena molornya penyelesaiannya proyek tersebut. Tetapi Pemkot telah mengambil langkah dengan melakukan tender ulang dan insya Allah bangunan itu akan selesai dalam tahun ini," pungkasnya.
Sementara itu, talkshow curhat bersama Wawali Samarinda yang merupakan garapan dari pengurus cabang IPNU Samarinda ini menurut ketua panitia Desman Minang merupakan serangkaian silaturahmi para pelajar yang tergabung dalam organisasi IPNU dan IPPNU dengan Wakil Walikota, selain mengevaluasi bersama kebijakan yang dikeluarkan untuk pelajar Kota Tepian. (hms5)
|