|
Senin, 08 Februari 2010 , 09:07:00
TANJUNG SELOR- Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bulungan I Dewan Budi melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Pollymaart Sijabat mengatakan, selama ini Dinkes tidak pernah memperjualbelikan abate dalam rangka pemberantasan penyebaran nyamuk demam berdarah. Semua abate diberikan secara gratis melalui juru pemantau jentik (Jumantik) atau melalui ketua RW di masing-masing wilayah dan puskesmas. Jikapun ada pihak yang memperjualbelikan bubuk abate itu, Dinkes tidak akan menjamin abate tersebut.
“Hasil survei kami di lapangan, ternyata selama ini masyarakat menggunakan abate yang dijual oleh pihak tertentu. Alhasil, penggunaanya pun tidak maksimal. Sehingga masih ditemukan kasus DBD, meski sudah ditebarkan bubuk abate,” ungkap Polly, ketika ditemui di ruang kerjanya, kemarin.
Lebih lanjut dia menyarankan, seharusnya masyarakat tidak perlu harus membeli abate. Karena Dinkes menyediakan secara gratis. Jika memang membutuhkan abate, bisa melapor ke Dinkes atau ke puskesmas terdekat. Selain itu, abate dari Dinkes dapat dijamin manfaatnya, daripada yang diperjual belikan. Apalagi, menurut laporan warga abate yang diperjual belikan beraroma.
“Kalau abate yang sebenarnya, tidak larut dan menempel di dinding penampungan air serta tidak beraroma, sehingga air ditaburi bubuk abate tidak masalah untuk dikonsumsi. Lain halnya, dengan abate yang dijual, kami tidak bisa menjamin. Perlu diketahui juga, selama ini masyarakat belum tahu cara penggunaan abate. Dimana abate ini, harus ditaburkan di dalam air, tanpa disaring lagi, seperti yang banyak ditemukan di masyarakat selama ini,” katanya lagi.
“Kami sebagai pelayan masyarakat, terutama dalam memberantas DBD. Kami menyiapkan abate secara gratis. Kalau memang dibutuhkan abate, asalkan pemanfaatanya untuk tempat penampung air yang besar, seperti tangki yang berisi lebih dari 100 liter. Agar pemanfaatnya, lebih maksimal hemat. Ketimbang ditaburi di dalam ember, yang secara logika bisa dikuras atau dibersihkan setiap hari,” lanjutnya.
Terlepas soal abate, menurut Polly, jika masyarakat benar-benar ingin memberantas nyamuk DBD itu, harus ada kekompakan di masyarakat untuk mengontrol keberadaan jentik, karena hasil survey selama ini, ditemukan ada kasus ada jentik.”Kalau memang mau kompak. Ketua Jumatik membuat kesepakatan dengan masyarakat, kalau ditemukan jentik di rumah warga. Maka warga tersebut didenda. Jika ini, diterapkan Bulungan akan bebas dari DBD, terutama di daerah-daerah endemis, seperti Bunyu dan Tanjung selor sendiri,” sarannya.(ian)
|