JAKARTA – Prediksi bakal menguatnya nilai indeks pada perdagangan saham di awal pekan ini ternyata tak terbukti. Sebaliknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru melorot tajam. Begitu juga dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ikut melemah. Kemarin sore, IHSG tertekan 1,72 persen (43,4 poin) ke level 2.475,57, dengan investor asing membukukan penjualan bersih senilai Rp 1,39 triliun.
“Faktor psikologis dari eksternal yang membuat aksi jual kembali terjadi sehingga menyebabkan indeks tertekan,’’ kata pengamat pasar modal dari Univesitas Airlangga (Unair) Leo Herlambang kemarin.
Harga komoditas tambang yang melemah menjadi pemicu utama laju IHSG di akhir transaksi awal pekan ini. Sementara dari domestik juga masih minim sentimen yang mampu membuat indeks menguat. Sebab, Rupiah juga cenderung melemah terhadap dolar AS.
Total nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp 4,53 triliun dan volume tercatat 9,34 juta lot, dengan frekuensi 83.760 kali. Sebanyak 37 saham menguat, 155 melemah, 60 ditutup stagnan, serta 234 saham tidak terjadi transaksi.
Saham komoditas yang melemah cukup besar di antaranya PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) turun Rp 1.150 atau 3,82 persen ke level Rp 28.950, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) melemah Rp 600 (3,71 persen) menjadi Rp 15.550, dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) terkoreksi Rp 350 atau 1,49 persen di posisi Rp 23.100. ’’Saham-saham ini yang layak akumulasi pada perdagangan pada hari-hari mendatang,’’ saran Leo.
Sementara itu, berdasarkan data kurs transaksi Bank Indonesia (BI), kurs rupiah kemarin berakhir di posisi 9.413 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Jumat (5/2), mata uang lokal tersebut berakhir di kisaran level 9.393 per USD.
Pengamat pasar valas dari BNI Rosady TA Montol mengemukakan, kecemasan dari faktor global seiring memburuknya prospek ekonomi zona Eropa makin memperkuat ekspektasi atas keperkasaan dolar. “Ini yang membuat rupiah kembali melemah di atas 9.400,” ujarnya.
BI yang tetap konsisten menjaga rupiah di pasar membuat rupiah mampu bertahan di 9.400 an per dolar AS. “Selain itu, mata uang kawasan yang bergerak beragam mengindikasikan bahwa tekanan dari penguatan dolar AS juga agak mereda,” paparnya. (luq/kim/jpnn)