BALIKPAPAN - Pembangunan jembatan Pulau Balang yang menghubungkan Balikpapan-Penajam Paser Utara (PPU) dinilai kurang efisien. Selain itu, jembatan yang dibangun Pemprov Kaltim itu dinilai akan mengancam kawasan Hutan Lindung Sungai Wain (HLSW) sekaligus memutus rantai ekosistem.
Sebagai alternatif, Staf Divisi Kajian Publik dan Lingkungan Sentra Program Pemberdayaan dan Kemitraan Lingkungan (STABIL) Balikpapan Edy Wijaya Hidayat mengusulkan, pembangunan jembatan Tanjung Batu-Gunung Seteleng. Sebab, selain panjang jalan yang lebih baik daripada lewat Tanjung Batu, pembangunan Tanjung Batu-Gunung Seteleng akan lebih mengamankan wilayah HLSW.
“Seperti kita tahu, setiap pembukaan jalan pasti akan membawa dampak. Pasti ada permukiman di sekitar, apalagi lewat pulau Balang yang sangat berdekatan dengan HLSW dikhawatirkan berpotensi terjadi perambahan hutan, dan perburuan hewan-hewan yang dilindungi,” tegas Dayat—sapaan akrabnya.
Ia menilai, jika dibangun lewat jembatan Tanjung Batu maka tidak terlalu berdampak, terlebih kawasan itu memang sudah dikhususkan sebagai kalangan industri. Jarak jalan yang dibangun lebih dekat, yaitu 30 kilometer.
Ditambahkan, pembangunan jembatan Pulau Balang, kata Dayat, yang menghubungkan PPU ke Km 13 Jl Soekarno Hatta Balikpapan ini akan membelah
kawasan konservasi HLSW. Dikhawatirkan, ekosistem mangrove di sekitar kawasan HLSW dan Teluk Balikpapan yang selama ini terhubung akan terputus.
Tidak hanya di darat, dengan adanya pembangunan Pulau Balang, juga akan mengganggu ekosistem yang ada di kawasan perairan Teluk Balikpapan. Pekerjaan pemasangan tiang pancang jembatan dikhawatirkan membuat erosi dan mengancam terumbu karang yang ada di Teluk Balikpapan. (tom)