BALIKPAPAN – Dugaan Ade Aditya, bocah usia 5 tahun pengidap difteri yang meninggal lantaran telat dibawa ke rumah sakit rujukan, kian menguat. KepalaRumah Sakit Kanudjoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan Rachim Dinata menyebutkan, nyawa Ade tak tertolong memang karena keterlambatan diagnosa serta rujukan dilakukan pihak Rumah Sakit Tentara Balikpapan (RSTB).
“Pas datang ke sini (RSKD, Red) Ade sudah divonis stadium tinggi,” kata Rachim ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (8/2) kemarin.
Pada saat dirawat di RSKD selama seminggu pun, ungkap dia, keadaan bocah malang tersebut tidak menunjukkan adanya kemajuan signifikan. Padahal, lanjut dia, penanganan intensif telah dilakukan seperti pemberian antibiotik. “Selain itu, kita juga kasih antiserum, tapi kekebalan tubuhnya lemah dan bakteri sudah menyerang jantung. Kalau sudah begitu, susah disembuhkan,” paparnya.
Mengenai kekhawatiran bakteri Corynebacterium diphtheriae bisa menyebar ke keluarga korban atau tetangga, mantan Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSKD ini mengingatkan warga agar tidak perlu resah. Karena, jika seseorang sudah diimunisasi berkala, maka bakteri masuk ke tubuh akan hilang sendirinya. “Usahakan seluruh anak Balikpapan sudah diimunisasi,” tutupnya.
Terpisah, Kepala Rumah Sakit Tentara Dr Hardjanto Balikpapan Letkol CKM Julie K SpB melalui Kepala Ruangan Taruna dan Anak, Sukman menyatakan, penyebab kematian Ade bukan karena lambannya RST Dr Hardjanto memberikan rujukan, melainkan orang tua Ade sendiri yang meminta penundaan rujukan.
Dijelaskan, Ade dibawa ke rumah sakit itu pada tanggal 29 Januari 2010 pukul 22.00 Wita. Saat diperiksa, orang tua Ade mengaku anaknya sudah sakit tiga hari sejak tanggal 26 Januari. Ade mengeluh tidak bisa menelan makanan, bengkak di leher, dan ada darah di tenggorokan.
Setelah darahnya diperiksa, Ade didiagnosa menderita demam berdarah dan difteri. Beberapa jam kemudian, pihak RST merujuk Ade dibawa ke RS Kanujoso Djatiwibowo (RSKD). “Tapi, Sutrisno (ayah Ade, Red) meminta supaya keesokan pagi saja dipindah karena sama sekali tidak punya uang,” jelas Sukman, sembari memperlihatkan rekam medis serta tertulis pernyataan yang ditandatangani Sutrisno.
Singkat cerita, keesokan harinya (30/1), barulah Ade dibawa ke RSKD. Tapi malang, setelah 7 hari dirawat, warga Kompleks Batakan Mas, RT 25, No 8, Manggar itu meninggal dunia, Minggu (7/2), sekitar pukul 07.15 Wita.
Dari hasil diagnosa, sel darah merah (hemoglobin) Ade yaitu 16,4 gram persen, sedangkan normal untuk dewasa adalah 13 sampai 18 gram persen. Sel darah putih (leukosit) 12.300 milimeter kubik, di mana normalnya hanya 5.000 sampai 10.000 milimeter kubik. Trombosit hanya 100 ribu, di mana normalnya 200 ribu sampai 500 ribu. Sementara hematokrit (persentase volume sel darah merah dari seluruh volume darah) yaitu 51 persen, di mana normalnya hanya 42 sampai 54 persen saja.
“Dilihat dari hasil itu, dapat diketahui pasien terkena demam berdarah dan difteri, di mana trombositnya jauh berkurang. Khusus diferti, kasus itu baru kali ini ditemukan di sini,” tambah Sukman.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan Dyah Muryani menyatakan, kasus Ade adalah pelajaran berharga bagi masyarakat Balikpapan. Sebab penyakit difteri bisa dikata pertanda orang tua tak memeprhatikan imunisasi bagi anak saat masih balita. Namun hal ini sekaligus sebagai koreksi bagi para petugas kesehatan. “Mungkin 5 tahun lalu imunisasi Ade kurang lengkap. Hal ini sudah saya komunikasikan dengan teman-teman petugas imunisasi. Bahkan sejak ditemukannya kasus difteri di Balikpapan, petugas imunisasi telah langsung menyebar dan mengecek lagi ke seluruh daerah,” ujarnya saat ditemui usai rapat Coffee Morning di Gedung Balai Kota kemarin. (fel/*/ede)