|
Selasa, 09 Februari 2010 , 08:07:00
Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) 45 MW dibangun PT Cogindo Daya Bersama yang berada di bawah naungan anak perusahaan PLN yaitu PT Indonesia Power. Beban puncak yang dapat dihasilkan pembangkit ini 44,5 MW atau sekitar 20 persen beban puncak sistem Mahakam.
Bahan bakar pembangkit ini yaitu marine fuel oil (MFO) atau minyak bakar. Untuk dua tahun pertama MFO dipakai, selanjutnya MFO akan diganti dengan gas. MFO yaitu bahan bakar bukan hasil destilasi, melainkan jenis residu yang berwana hitam. Minyak jenis ini memiliki tingkat kekentalan tinggi dibanding minyak diesel. Biasanya, bahan bakar ini digunakan industri besar karena lebih murah.
Menurut Direktur Cogindo Daya Bersama Septa Hamid, dengan menggunakan bahan bakar ini, Rp 100 miliar mampu dihemat tiap tahun. “Setelah dua tahun, bahan bakar bisa diganti dengan gas. Sedangkan mantan General Manager (GM) PT PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Ahmad Siang menjelaskan, salah satu fungsi pembangkit ini, sebagai penyeimbang di sistem Mahakam.
“Yang terjadi selama ini, jika jaringan di Bukit Soeharto (Kukar, Red.) putus, Balikpapan yang paling merasakan dampaknya. Ini karena sebagian besar pembangkit berada di Kukar,” ungkap Ahmad yang beberapa waktu silam serah terima jabatan dengan Dodi Budianto, GM PLN yang baru.
Selain itu, Siang mengatakan, ketika dia memimpin PLN Kaltim pada 4 Maret 2008, kondisi listrik di Kaltim sangat memprihatinkan. “Waktu itu, pemadaman bergilir masih ada. Tapi sekarang, sudah tidak ada lagi. Daya sudah cukup bahkan surplus 28 MW. Kalau ada pemadaman, itu karena kerusakan mesin,” kata dia.
DAFTAR TUNGGU TINGGI
Lantas, bagaimana dengan daftar tunggu (waiting list) di sistem Mahakam yang mencapai 96 ribu calon pelanggan? Bukankah perhitungan daya PLN tersebut tidak memasukkan waiting list? Menjawab itu, Ahmad Siang didampingi penggantinya Dodi Budiawan mengatakan, penyelesaian daftar tunggu bukan tergantung daya saja.
“Tapi juga persoalan jaringan. Misalkan ada daerah yang sama sekali belum tersentuh jaringan, maka perlu waktu lama menyediakan sambungan,” terang Siang. Ditambahkannya, daftar tunggu juga tidak lepas dari pertumbuhan wilayah. “Artinya juga, pertumbuhan di Kaltim baik, tinggal bagaimana kami berusaha mengimbanginya,” tambah dia.
Untuk diketahui, di sistem Mahakam, daftar tunggu pada 2009 lalu mencapai 96.876 calon pelanggan dengan kebutuhan daya 346 MW. Sementara saat ini, total daya mampu seluruh pembangkit di Kaltim mencapai 290,3 MW dengan beban puncak (pemakaian) 234 MW.
Sedang di luar sistem Mahakam yang terintegrasi tiga kota tadi, terdapat 11 sistem terisolasi dengan ratusan subsistem di kabupaten kota lainnya. Rencananya, pada 2013, sistem Mahakam akan diperluas jaringannya, mulai dari Paser hingga Sangatta.
Sementara, Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak menyampaikan, beberapa pembangkit listrik saat ini sedang dibangun. Seperti pembangkit 2 x 100 MW di Kariangau, Balikpapan yang saat ini sudah tahap tender di pusat. Kemudian, rencana Bakrie Power (grup Bumi Resources, pemegang saham PT Kaltim Prima Coal) 2 x 100 MW di Sangatta, Kutai Timur.
“Selain itu, di Senipah 2 x 80 MW, milik CFK (Cahaya Fajar Kaltim, Red.) di Embalut yang menambah 2 x 50 MW, Tanjung Batu 56 MW, Sambera 2 x 20, dan Bontang, 2 x 27 MW,” terang Gubernur. (fel)
|