|
Selasa, 09 Februari 2010 , 08:31:00
Sebanyak 415 kepala keluarga (KK) warga Perumahan Bukit Temindung Indah Samarinda dari 6 RT di Kelurahan Samarinda Utara, telah lama mengalami krisis air bersih. kejadian ini berlangsung 14 tahun.
Mulai perumahan ini berdiri tahun 1996, warga sudah mengalami kesulitan air. Banyak warga yang memanfaatkan air danau yang berada di sekitar perumahan untuk mencukupi kebutuhan air. Bila kemarau tiba lebih parah lagi, perumahan diterpa kekeringan karena air hujan, dan kolam tak bisa diandalkan. Bila musim hujan sebagian besar kebutuhan air memanfaatkan dari tampungan air hujan.
Menurut penuturan Muhyidin salah satu warga, sejak dua tahun perumahan ini berdiri tahun 1998. PDAM Samarinda menyalurkan sambungan air ke perumahan ini. Warga pun gembira, air bersih yang selama dua tahun sulit didapat bakal mudah didapat.
"Kami manfaatkan air hujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Bayangkan bila musim kemarau kami kekeringan, dan krisis air bersih," ungkap salah Umi, salah satu warga.
Pihak pengembang PT Artas Nusantara sebagai pengembang pun memberikan fasilitas untuk kebutuhan yang diperlukan guna menyambut baik adanya sambungan dari PDAM. Dirut PT Artas Nusantara yang ditemui Kaltim Post DR Chrisman Sitorus mengungkapkan, sudah membangun fasilitas yang dibutuhkan PDAM termasuk pompa penyedot, bak penampungan air sementara, dan penambahan pipa yang akan tersambung ke pipa primer PDAM.
Tetapi sudah berjalan 11 tahun, debit air dari PDAM ternyata tidak mencukupi warga di Perumahan ini. “Air mengalir tidak setiap hari. Sering kami menunggu saat malam, tetapi setelah ditunggu pun tidak mengalir,” keluh April.
Selama belasan tahun pasokan air dari PDAM tidak lancar, warga pun harus mengeluarkan kocek yang cukup besar untuk membeli air dari para penjual air dengan tandon. Kalaupun tidak membeli air, sebagian warga memanfaatkan sumur.
Tetapi itu pun kurang efektis, karena debit air yang dihasilkan sangat minim, dan kualitas air yang ad tidak bagus. “Kami terpaksa menggunakan air sumur untuk kebutuhan cuci. Kalau memasak, kualitas air tidak cukup baik,” tambah Umi.
Karena air tanah kurang baik, banyak warga enggan membuat sumur. Apalagi investasi yang harus dibayar sangat tinggi. “Kalau membuat sumur bor, dibutuhkan jutaan rupaih, dan itupun belum tentu menghasilkan air,” ungkap warga Ahmad, warga RT 24. (*/nan)
|