PERFORMA Didier Drogba yang memikat saat mengalahkan Arsenal kemarin menuai pujian dari fans Chelsea. Namun, buat publik Pantai Gading, negara asal Drogba, penampilan gemilang sang bintang justru terasa menyakitkan.
Pasalnya, dia tidak bisa menunjukkan performa yang sama saat bermain untuk Pantai Gading di ajang Piala Afrika lalu. Di event itu, Drogba tampil melempem dan hanya mencetak satu gol. Pantai Gading pun terhenti di perempat final setelah kalah 2-3 oleh Aljazair.
”Kita lihat saja apa yang akan dilakukan orang ini (Drogba, Red). Semoga dia mencetak gol ke gawang Arsenal, sehingga kita semua bisa menghujatnya sebagai pengkhianat yang tidak mencintai negaranya,” kecam Julien Tape, seorang bartender di Abidjan, ibu kota Pantai Gading, seperti dikutip Goal.
Ketika Drogba menjebol gawang Manuel Almunia pada menit kedelapan, tak seorang pun bersorak. Sebagian malah mencibir. ”Saya tidak peduli dia mau cetak berapa gol pun. Kalaupun malam ini dia bikin seratus gol, itu urusan dia,” kata Maflan Kouadio, penjual ikan yang ikut nonton bareng.
Sesungguhnya bukan hanya Drogba yang menunjukkan perbedaan kualitas saat bermain untuk timnas. Terutama mereka yang bermain di liga elite Eropa. Mereka cenderung bermain hati-hati untuk menghindari cedera. Namun, penurunan kualitas yang ditunjukkan Drogba memang sangat menyolok. Dia tidak berani mengambil risiko ketika Chelsea sedang dalam posisi kuat merebut titel Premier League.
”Ini tindakan yang kejam. Kita bisa lihat bagaimana dia bermain setelah meninggalkan Angola. Kenapa dia tidak bisa melakukan yang seperempat dari malam ini ketika dia membela negaranya? Dia mestinya bisa membawa Pantai Gading ke babak yang lebih tinggi,” sesal Jean Jacques Diby, warga Abidjan lainnya.
Suara serupa datang dari Soro Diomade, seorang guru. Menurut dia, semua pemain profesional Pantai Gading jadi lembek ketika dipanggil timnas. Sebaliknya, jika bermain di liga masing-masing, semua menunjukkan determinasi tinggi.
”Saya tidak tahu apa mereka takut cedera atau karena asosiasi sepak bola kami tidak membayar mereka cukup tinggi. Tapi, kami sangat merasakan bahwa Drogba dan rekan-rekannya mengkhianati negara ini,” kecam Diomade. (na/ca/jpnn)